Bicycle4you ~ It's All About Bicycle | Members area : Register | Sign in
Showing posts with label Pertamax. Show all posts
Showing posts with label Pertamax. Show all posts

Konspirasi Politik di Balik Peluncuran Mobil Murah

Thursday, September 19, 2013

1379607649156697013
LCGC: Kebanggaan untuk Indonesia (Pic: otomotif.kompas.com)
Sebagai pengamat sekaligus pelaku dalam lingkaran industri otomotif, saya sedikit tergelitik untuk merangkai benang merah antara pengembangan proyek mobil murah atau istilah asingnya LCGC (Low Cost Green Car) dan LCE (Low Carbon Emission) dengan strategi politik dari para politisi di tanah air. Hal ini tentu saja ketika kita kaitkan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 2013 tentang barang mewah kena pajak. Mari kita coba analisa satu persatu bagaimana kaitannya.

Proyek LCGC ini sebenarnya sudah digulirkan dari tahun lalu. Kolaborasi Toyota-Daihatsu bahkan sudah punya master schedule untuk peluncuran mobil murah mereka yang diberi kode D80 di akhir tahun 2012. Dalam setiap proyek peluncuruanline up terbaru masing-masing car maker, strategi pasar pasti merupakan hal pertama yang harus dimiliki oleh setiap produsen mobil. Toyota-Daihatsu sebagai raksasa industri otomotif selalu menempatkan diri sebagai pionir untuk urusan mobil baru. Penetrasi pasar dengan produksi massal dengan jaminan kualitas tinggi danbrand image Toyota merupakan modal kuat untuk mendominasi pasar di setiap segmen.

Tapi dalam proyek LCGC kali ini, sedikit lain dari proyek yang biasanya. Tarik ulur kebijakan pemerintah menjadi salah satu penentu dalam permainan masing-masing produsen mobil. Begitu PP No. 41 resmi keluar pada bulan Juni yang lalu, peta percaturan industri otomotif langsung berubah. Kemunculan mobil murah dari berbagai ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) secara hampir bersamaan meluncurkan line up masing-masing di bulan September ini. Hal ini sedikit “menyalahi” skenario proyek yang “biasanya” dimana raksasa Toyota-Daihatsu yang membuka pasar di awal kemudian akan diikuti oleh produsen yang lain. Suzuki yang biasanya mengambil porsi sebagai kuda hitam setelah peluncuran duet maut Toyota-Daihatsu, ternyata sudah siap untuk peluncuran mobil murahnya yang berkode YR9. Demikian juga Honda yang bersamaan juga meluncurkan Brio versi LCGC dengan kode 2CF yang akan disusul dengan 2MD dan juga Nissan dengan K2-nya. Padahal “biasanya” Honda tidak akan masuk ke segmen head to headdengan Toyota-Daihatsu dalam waktu bersamaan. Honda lebih mengambil strategi “exclusive” dan “brand minded” dari para penggemarnya dengan konsep luxury dan elegan, bukan produksi massal sejuta umat sehingga tetap mempunyai pasar tersendiri meski harga selalu di atas para pesaing dalam line up yang setara.

Lalu apa kaitannya dengan strategi politik di tanah air?

Seperti yang saya sampaikan di awal bahwa kebijakan pemerintah untuk mengeluarkan PP No.41 tadi lah yang mengakibatkan perubahan skenario proyek dari masing-masing pelaku industri otomotif. Kalau PP No.41 sudah keluar jauh-jauh hari di tahun lalu, urutan skenario peluncuran masing-masing merek tentunya tidak akan jauh-jauh dari “pakem” di atas, tentunya terkait dengan strategi pasar dan kesiapan produksi masing-masing produsen mobil.  Hal ini bisa jadi menguntungkan buat konsumen karena bisa “memilih” tanpa harus menunggu keluarnya model dari setiap produsen. Apakah merupakan sinyal positif bagi para pelaku industri otomotif? Saya bilang bisa jadi malah membuat bumerang bagi masing-masing pelaku industri otomotif. Dengan kebijakan yang tarik ulur dan cukup lama baru diterbitkan, kesiapan para pelaku industri otomotif dituntut kecepatan ekstra untuk segera penetrasi ke pasar, dan kali ini lebih berat karena setiap produsen sudah siap untuk mengeluarkan unitnya secara bersamaan. Artinya perlu strategi dan tenaga ekstra untuk bisa bersaing dengan kompetitor.

Bumerangnya seperti apa?

Dengan keluarnya kebijakan pemerintah, proyek yang cukup lama terkatung-katung harus segera digenjot kapasitas produksinya. Kecepatan akselerasi ini tentunya harus diikuti oleh mekanisme supply chain yang bagus. Kesiapan setiap suppliermenjadi penentu kecepatan akselerasi penetrasi ke pasar. Apa jadinya jika rencana awal investasi sementara hold karena belum keluarnya kebijakan yang kemudian tiba-tiba diluncurkan ketika mendekati 2014? Tentu saja akan terjadi rush productionyang menuntut kecepatan kesiapan sarana dan prasarana penunjang produksi dan bisa jadi efek samping terhadap kualitas terjadi.

Bukan tanpa alasan kenapa PP No.41 sempat tertahan hampir satu tahun dan tiba-tiba diluncurkan ketika mendekati penghujung 2013 menyongsong 2014. Pemilu tahun depan bisa jadi merupakan salah satu alasan di balik tertunda dan terbitnya PP ini. Kontroversi kenapa pemerintah lebih merangkul LCGC yang notabene produksi orang luar dibanding ESEMKA yang produksi anak bangsa menjadi bagian tersendiri dari sebuah strategi politik. Alasan secara logis kenapa pemerintah lebih memilih mengembangkan LCGC ini tentunya cukup beralasan karena jargon ‘mobil murah” tentunya memang harus murah. Pelaku industri di dunia otomotif tentunya lebih siap dengan sarana dan teknologi untuk produksi massal sehingga biaya yang dikeluarkan bisa ditekan rendah. Kalau tetap mengusung ESEMKA sebagai “mobil murah” bisa jadi malah akan menjadi “mobil murahan” karena untuk mencapai kualitas setara dengan pabrikan besar butuh biaya yang sangat tinggi. Jadi dengan menggandeng pabrikan otomotif besar yang sudah berpengalaman, “mobil murah” akan terealisasi yang memang benar-benar murah tanpa mengorbankan kualitas. Hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan menengah ke bawah untuk lebih “respect” pada pemerintah sekarang yang “memperhatikan” rakyatnya. Dan tentu saja bisa jadi modal untuk perolehan suara nanti pada Pemilu mendatang.

Kedua kalau kita lihat dari sisi psikologis politik. Pemilihan LCGC bukannya ESEMKA dijadikan peluru untuk mematahkan citra merakyat dari Jokowi. Kalau ESEMKA yang dikembangkan tentunya akan semakin meningkatkan pamor dari sosok Jokowi yang tentunya lawan politik dari penguasa sekarang. Berbagaistatement saling kontroversi dilontarkan baik oleh Jokowi maupun dari kubu pemerintah lewat sang menteri maupun wapres. Kita coba lihat hasil dari permainan politik masing-masing kubu selanjutnya.
Hal berikutnya bisa jadi merupakan strategi bisnis politik. Ijin produksi LCGC yang dikeluarkan tentunya menjadi angin segar bagi para pelaku industri otomotif. Target keuntungan dari setiap unit yang diproduksi menanti di depan mata. Deal politik terhadap bisnis ini bisa saja tercipta antara pengusaha dan pengambil keputusan di pemerintahan. Biaya kampanye menjelang Pemilu yang tidak sedikit bisa jadi menjadi salah satu alat tawar keluarnya kebijakan produksi mobil murah ini. Simbiosis mutualisme atau malah sebuah konspirasi bisnis dan politik mungkin saja tercipta dari kondisi ini.

Sebagai rakyat biasa yang hanya bisa mengamati dan coba merangkai sepotong-sepotong, analisa di atas tentunya minim dengan dasar yang kuat, hanyalah sebuah imajinasi dari kontroversi hati atas labil ekonomi sebagai bentuk statusisasi kemakmuran yang mudah-mudahan tidak menimbulkan konstipasi :D

LCGC sebagai mobil murah ini bisa jadi merupakan produk gagal, terutama bagi orang-orang yang tetap saja tidak mampu menyisihkan uangnya untuk membelinya. Ya..produk gagal…gagal beli.. ^_^

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Keputusan Tepat Menaikkan Harga BBM

Sunday, June 23, 2013

Akhirnya BBM naik juga..

Setelah melewati berbagai macam pembahasan yang diwarnai rentetan unjuk rasa mahasiswa maupun buruh dan juga tidak ketinggalan pemasangan poster menolak kenaikan BBM dari partai politik, harga BBM tetap diputuskan naik.
1371922934546063151
Antri BBM (source : tempo.co)
Kenaikan BBM ini tentu saja berdampak cukup luas terhadap roda perekonomian di tanah air, belum lagi jika di bawa-bawa ke ranah politik. Tapi jika melihat bahwa mau tidak mau pemerintah tetap menaikkan harga BBM, menurut penilaian saya ini adalah pengambilan keputusan yang tepat di waktu sekarang.

Kenapa saya bilang keputusan yang tepat?
Saya coba ambil pendekatan dari sisi psikologi  ekonomi, istilah saya sendiri sih.. :). Maksudnya kalau dilihat dari sisi ekonomi, imbas kenaikan harga BBM ini pasti sangat mempengaruhi pergerakan harga-harga yang lain terutama sembako. Nah, fenomena secara psikologis atau yang saya istilahkan psikologi ekonomi tadi kira-kira adalah persepsi orang dan reaksinya terhadap perubahan ini.

Kita coba lihat reaksi orang-orang menjelang kenaikan BBM. Antrian panjang orang di SPBU terjadi di mana-mana. Sebagian yang ikut antri adalah para demonstran yang menolak kenaikan BBM, lha kok ikut ngantri juga? :)

Kalau dilihat dari faktor ekonomi coba kita hitung, efek kenaikan adalah 2.000 rupiah. Motor isi penuh sekitar 4 liter, untuk motor besar sekitar 10 liter. Jadi efek ekonomisnya hanya sebesar 8.000 - 20.000 rupiah saja, hanya senilai sebungkus dua bungkus rokok, tidak senilai dengan usaha untuk antri panjang. Nah, inilah yang saya sebut tadi faktor psikologi ekonomi. Beda dengan para penimbun yang murni memanfaatkan faktor ekonomi.

Jadi apa hubungan efek psikologis ini dengan judul di atas?
Coba kita lihat benang merahnya. Kita tinggal menghitung hari untuk memasuki bulan Ramadhan dan disusul dengan Hari Raya Idul Fitri. Seperti sudah menjadi tren musiman bahwa menjelang lebaran harga kebutuhan bahan pokok akan cenderung naik dan orang-orang pun akan mempersiapkan diri. Secara psikologis, kenaikan harga sembako pada menjelang lebaran sudah dianggap hal wajar dan sisi konsumtif dari manusia akan mengabaikan hal itu. Pulang mudik setahun sekali dengan biaya tambahan karena tuslah tidak menjadi masalah buat mudikers.

Nah, sekali lagi saya katakan bahwa keputusan menaikkan harga BBM saat ini diambil pada waktu yang tepat. Dengan menaikkan harga BBM di saat memang “wajar” harga-harga kebutuhan pokok naik akan mengkamuflase dampak kenaikannya secara psikologi ekonomi tadi. Coba kita bandingkan jika BBM naik setelah lebaran nanti, efek secara psikologis akan terjadi dua kali lipat kenaikan secara berantai, di saat budget cadangan untuk hari raya sudah habis.

Efek lain kenaikan menjelang lebaran mungkin akan berimbas positif terhadap berkurangnya pemudik yang menggunakan sepeda motor yang kalau kita lihat catatan laka lantas saat mudik tahunan paling banyak terjadi korban pengendara sepeda motor. Mungkin orang akan coba transportasi lain seperti kereta atau bus yang memang tarifnya lebih tinggi karena tuslah meskipun BBM tidak naik.

Sebenarnya ada satu lagi efek yang berefek ke saya pribadi. Setelah diumumkan semalam bahwa BBM naik, pagi-pagi saya keluarkan sepeda. Ternyata ban kempes…

Yah…jadi ingat kalau sudah 3 mingguan tidak pernah menyentuh si B!anchi beureum. Jadi memang tepat keputusan menaikkan harga BBM saat ini, biar saya bisa kembali bersemangat muter bareng bini kedua yang ndak perlu minum BBM ^_^

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Prestasi SBY di Balik Kenaikan Harga BBM

Wednesday, June 19, 2013

Issue kenaikan harga BBM sepertinya akan segera menjadi kenyataan. Sidang paripurna DPR sudah ketok palu berdasarkan voting menyetujui rencana kenaikan BBM dan tinggal menunggu waktu saja.
13715768431152985388
BBM dan SBY (source: wartanews.com)
Berbagai kecaman, protes, demonstrasi maupun hujatan tak bisa dihindarkan atas rencana kenaikan BBM ini dan sudah pasti sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi, SBY menerima semua bentuk ketidakpuasan tersebut. Beberapa ahli mengeluarkan pernyataan bahwa rencana kenaikan BBM merupakan pembohongan publik dengan mengeluarkan dasar perhitungan harga minyak dunia dan kalkulasi subsidi untuk rakyat. Ahli yang lain berpendapat sebaliknya bahwa kenaikan harga BBM adalah wajar mengingat pemerintah terlalu besar beban untuk menanggung subsidi BBM sedang harga di pasar dunia jauh lebih tinggi.

Belum lagi masalah kenaikan harga BBM ini dikaitkan dengan politik dan berbagai kepentingan kelompok tertentu. Masing-masing mengatasnamakan suara untuk rakyat. BBM naik rakyat akan sengsara, mari demo untuk rakyat. Sisi lain berkata untuk penyelamatan bangsa, kenaikan harga BBM tidak bisa dihindari, Balsem solusi untuk subsidi rakyat kurang mampu. Semua mengatasnamakan rakyat.

Saya kebetulan bukan ahli politik sehingga sedikit sulit untuk mencerna bahasa politik. Saya bukan pula ahli ekonomi yang bisa membuat kalkulasi efek kenaikan harga minyak dunia, besaran subsidi yang layak atau perumusan anggaran negara. Jadi saya coba ambil sudut pandang sederhana dari catatan sejarah harga BBM. Hasilnya, ternyata SBY paling berprestasi soal harga BBM…!!

Sebelum dicaci maki tidak pro rakyat karena dianggap mendukung kenaikan BBM, coba kita analisa bersama data berikut ini.

Berikut ini adalah perubahan harga BBM bersubsidi, yang dalam hal ini Premium per liter, sejak era Soeharto hingga SBY:

Soeharto
1991: Rp 150 naik jadi Rp 550
1993: Rp 550 naik jadi Rp 700
1998: Rp 700 naik jadi Rp 1.200

BJ Habibie
1998: Rp 1.200 turun ke Rp 1.000

Abdurrahman Wahid
1999: Rp 1.000 turun jadi Rp 600
2000: Rp 600 naik ke Rp 1.150
2001: Rp 1.150 naik ke Rp 1.450

Megawati Soekarnoputri
2002: Rp 1.450 naik jadi Rp 1.550
2003: Rp 1.500 naik jadi Rp 1.810

SBY
2005: Rp 1.810 naik jadi Rp 2.400
2005: Rp 2.400 naik jadi Rp 4.500
2008: Rp 4.500 naik jadi Rp 6.000
2008: Rp 6.000 turun ke Rp 5.500
2008: Rp 5.500 turun ke Rp 5.000
2009: Rp 5.000 turun ke Rp 4.500


Ada beberapa catatan dari data di atas :
SBY adalah presiden yang paling banyak menurunkan harga BBM. Tercatat 3 kali harga BBM turun. Habibie tercatat satu kali menurunkan harga BBM tanpa menaikkan. Soeharto 3 kali menaikkan harga BBM tanpa berhasil menurunkan disusul kemudian oleh Megawati.

Coba kita beri bobot untuk masing-masing kriteria naik dan turun, misalnya seperti pembobotan ujian masuk perguruan tinggi (benar : point +4, salah : point -1). Untuk kriteria BBM ini kita turunkan sedikit pointnya (turun : point +2, naik : point : -1), maka SBY dapat point sbb :
- naik : 3 kali –» point -3
- turun : 3 kali –» point +6
Jadi total skor SBY : +3 point. Dengan rencana kenaikan nanti point berkurang -1 menjadi +2.

Presiden dengan point terendah ternyata adalah Soeharto dengan catatan menaikkan harga BBM 3 kali –» skor : -3 point.

Kalau kita lihat tingginya persentase kenaikan, data menunjukkan di era Soeharto terjadi kenaikan paling tinggi yaitu sebesar 366% (150 –» 550), sedangkan SBY paling tinggi menaikkan harga BBM sebesar 187% (2.400 –» 4.500).

Selama menjabat sebagai Presiden, Soeharto menaikkan harga BBM dari rentang terendah sampai tertinggi mencapai 800% (150 –» 1.200), sedangkan SBY hanya sekitar 331% (1.810 –» 6.000).

Jika kita lihat rencana kenaikan BBM yang akan dilakukan menjadi sebesar 6.000, hal ini sebenarnya bukan terjadi kenaikan harga tapi mengembalikan sama dengan harga BBM pada periode tahun 2008 sesperti data di atas.

Berdasar data dan analisa di atas, kita bisa tarik kesimpulan bahwa SBY adalah Presiden paling berprestasi untuk urusan BBM, disusul Habibie yang tanpa catatan menaikkan harga BBM. Sedangkan Soeharto menempati urutan terbawah dengan prestasi selalu menaikkan harga BBM tanpa pernah turun dan rentang kenaikan yang paling besar.

Analisa di atas murni dari data statistik yang ada. Kalau kita lihat dari frekuensi naik turun harga, SBY ternyata paling sering melakukan perubahan harga baik naik maupun turun. Tercatat 6 kali melakukan perubahan harga dan akan menjadi 7 kali jika terealisasi rencana naik tahun ini.

Kalau sedikit dibawa ke ranah politik dan ekonomi di tanah air, sebenarnya efek yang besar bukan di kenaikan harga BBM-nya, tapi imbas dari kenaikan atau pun penurunan. Rentetan efek berantai kenaikan sembako dan kawan-kawan bahkan sudah terjadi saat issue muncul dan belum realisasi. BBM turun ternyata harga kebutuhan pokok kekeuh di posisinya. 

Ketidakpastian keputusan yang berlarut memeunculkan berbagai efek spekulatif berbagai kelompok dan oknum.

Jadi kalau kita bawa ke suara hati rakyat, semakin sering menaikkan atau menurunkan harga BBM artinya mempermainkan hati rakyat..!!

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Hemat BBM? Tidak Perlu Itu!

Tuesday, June 4, 2013

1370344683666634610
Energi Alternatif (Doc: Bike to Work Magelang)
Issue kenaikan BBM yang masih tarik ulur merupakan fenomena menarik dan sedikit lucu apabila kita cermati. Bagaimana tidak? BBM sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat umum dan yang menariknya adalah baru sekedar issue saja sudah membuat efek berantai di sekelilingnya. Belum-belum harga sembako sudah siap-siap ikut naik, belum lagi ulah para sepekulan yang dengan oportunisnya menimbun BBM sebelum harga naik.

Lebih menarik lagi ternyata issue ini sangat renyah untuk dibawa ke kancah politik. Wacana bantuan uang tunai sebagai kompensasi kenaikan harga BBM disinyalir digunakan sebagai sarana politis kelompok tertentu yang bisa jadi sarana politis kelompok lain juga untuk menjatuhkan. Sedemikian menariknya BBM ini sehingga kita (pemerintah kita tepatnya) disibukkan untuk mengkaji ulang ‘harga yang pantas’ untuk BBM dengan mempertimbangkan faktor keekonomian dan kemaslahatan rakyat banyak, atau boleh diartikan harga subsidi yang tidak memberatkan rakyat.

Tambah menariknya lagi, setiap saat bahkan bukan hanya ketika muncul wacana kenaikan harga BBM, himbauan agar lebih hemat BBM digaungkan di sana-sini. Nah ini sebenarnya yang lucu. Kenapa harus hemat BBM? saya tegaskan lagi sesuai judul di atas.. Tidak Perlu..!!

Lebih hemat BBM artinya kita harus mengkonsumsi BBM lebih sedikit dari sebelumnya. Secara logika hal ini sungguh tidak masuk akal. Semakin hari semakin bertambah jumlah penduduk, artinya pemakai BBM akan bertambah. Konsumsi terbesar BBM adalah untuk moda transportasi, perhatikan kemacetan yang semakin hari semakin parah. Artinya untuk menempuh jarak yang sama diperlukan waktu lebih lama dan artinya lagi akan lebih banyak BBM yang dikonsumsi. Himbauan untuk berhemat BBM merupakan tuntutan sepihak yang merugikan warga negara sebagai konsumen.

Kalau kita coba kembali ke ingatan di bangku sekolah, mungkin masih sedikit teringat bagaimana dan dari mana asal muasal minyak atau BBM dihasilkan. Ya..berasal dari tumbuhan dan hewan serta fosil nenek moyang kita berjuta tahun yang lalu. Apakah nenek moyang kita pada jaman dahulu kala pernah berpikir atau sekedar membayangkan bahwa tulang belulang mereka itu lah yang nantinya akan jadi komoditi berharga bernama BBM? Jadi mestinya sama dengan kita sekarang, tidak perlu berpikir hemat BBM untuk masa depan anak cucu kita nantinya.

Akan sangat lucu dan konyol sepertinya kalau kita sekarang berpikir bahwa dengan hemat BBM kita berharap bisa menyisakannya untuk anak cucu kita nanti. Mari kita kembali lagi ingatan ke buku pelajaran tentang hukum kekekalan energi. Masih ingat? Yup..hukum kekalan energi menjelaskan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau pun dimusnahkan, energi hanya dapat dirubah dari satu bentuk ke bentuk energi yang lainnya. Jadi cukup jelas bukan? Berapa pun banyak kita konsumsi BBM, energinya tidak akan pernah habis, hanya berubah ke bentuk yang lain. Jadi sekali lagi..hemat BBM itu tidak perlu..!!
Benar-benar menarik dan lucu bukan? :)

Biar tidak tambah lucu lagi saya coba sampaikan ide lugu saya. Akan sangat senang saya sebagai masyarakat awam ini apabila bukan disuguhi wacana tarik ulur kenaikan harga BBM yang dibawa-bawa ke ranah politik kemudian dibumbui paksaan untuk hemat BBM, benar-benar pembodohan dan pembatasan hak kita sebagai rakyat. Betapa gembiranya saya apabila yang muncul adalah wacana mengenai energi alternatif, ide-ide brilian tentang energi yang terbarukan. Berikanlah pilihan kepada kita sebagai warga negara untuk memilih energi yang kita butuhkan untuk kelangsungan hidup..bukan membatasinya. Apa kabarnya mobil listrik? Sampai mana kelangsungan cerita konversi minyak tanah ke gas? Bagaiman kisah pembangkit listrik tenaga surya, tenaga ombak di lautan kita yang maha luas? Cukup banyak sumber energi alternatif yang belum kita kaji dengan seksama.

Coba kita berandai-andai sekian juta tahun yang akan datang, kalau hanya berpikir tentang BBM mungkin akan ada ide pembunuhan massal dan percepatan pembusukan tubuh kita menjadi fosil yang kemudian menghasilkan minyak untuk kebutuhan energi anak cucu kita, mengerikan sekali kan? :)

Jadi memang sebaiknya kita tidak perlu berpikir kelak anak cucu kita mau seperti apa. Cukup kita berpikir saat ini untuk sedikit kreatif, ingat energi itu tidak dapat diciptakan atau pun dimusnahkan…ubahlah dia dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Berangkat kerja tidak perlu mampir SPBU untuk beli BBM, cukup mampir warteg sebelah untuk diubah menjadi energi gowes pedal di kaki….wussss…wusshh… ^_^

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Bike to Work : (Mati Gaya) Pertamax Tanpa Subsidi

Saturday, March 24, 2012


Senin pagi suasana begitu cerah. Udara segar terasa sejuk masuk ke rongga paru-paru. Bak seorang atlet profesional, lengkap dengan helm dan kostum warna-warni, tidak ketinggalan kacamata berwarna kemilau layaknya kaca film mobil, Paijo dengan santai mengayuh pedal sepeda gunungnya. Logo emblem ‘bike to work’ menggelantung berayun di bawah sadel sepedanya.



Start your engine...(Doc : Pribadi)
Ya..sudah seminggu terkahir ini Paijo rutin pulang pergi kerja dengan sepeda barunya. Ini berawal dari kejadian seminggu yang lalu.


“Bune, konco-konco kantor itu punya rencana mbikin club sepeda lho..! nama club-nya apik tenan lho..’BTW Coy..!’, artine Bike to Work Community. Bener-bener keren…top..apik tenan to, Bune..?” Paijo membuka intro percakapan dengan istri tercintanya yang dari tadi terlihat manyun, mikirin harga sembako yang kian membumbung tinggi.

“Trus maksudnya apa to, Pakne…? Mau pengen beli sepeda baru gitu, piye..?” sambil bersungut tambah dua centimeter bibirnya.
“Lha mbok pake’ sepedane Thole sing BMX itu kan yo bisa to..?” istrinya nambahin.
“Walah Bune, yo gak keren…apa kata dunia..ehh…konco-konco nanti, kepala bagian logistic kok beli sepeda aja gak bisa.”
“Lagian ini kan sebagai program penghematan juga, Bune. Kalo’ tiap hari pulang pergi kerja naik sepeda kan bisa irit. BBM buat mobil kita kan bisa berkurang, denger to kalo’ bulan ngarep mau naik lagi tu hargane? trus satu lagi nilai tambah yang tidak kalah penting, sambil olahraga, badan sehat dan mengurangi polusi udara. Bune tau efek rumah kaca..? global warming..?” Paijo memperkuat argumennya demi mendapatkan kucuran dana pembelian sepeda barunya.

“Yo wis karepmu, Pakne. Global warming opo Gombal amoh nggak mudeng, yang penting berarti uang belanja bisa nambah, Thole dapat uang saku lebih banyak buat nabung,to..?” Istrinya yang tontonan tiap harinya cuma sinetron  dan gossip selebrity menimpali omongan Paijo.

“Kalau dihitung-hitung, jarak rumah dan kantor tempat kerja hampir 10 km. Konsumsi rata-rata BBM 1 liter tiap 10 km, artinya pulang pergi 2 liter. Harga bensin subsidi 6 ribu (kalo’ jadi naik), lha wong harga minyak dunia kan naik jadi ikut naik…turun..ikut turun..(lha kok senengnya cumin ikut-ikutan ya.?) Kalo’ harga dunia naik trus kita bisa bertahan…itu baru keputusan yang top markotop..tak iye..:)
 Jadi dengan naik sepeda kan lebih irit 12 ribu, lumayan buat tambahan uang saku Thole.” Batin Paijo mencoba membuat kalkulasi, dia kan kerjaanya bagian pengadaan barang, biasa itung-itungan buat nawar harga.

Rupanya Paijo sedikit membuat kesalahan kecil dengan melupakan side effect dari bersepeda. Karena tidak terbiasa bersepeda, alhasil keringat bercucuran, capek dan lapar. Sampai tempat kerja harus menyempatkan diri mengunjungi kantin, sarapan lagi. Kebiasaan Paijo mentraktir teman-temannya menambah bengkak budget hariannya. Alhasil minimal 20 ribu dia keluarkan. “Yang penting olahraga, badan sehat” Paijo masih mencoba buat rasionalisasi.

Pagi itu seperti biasa sehabis mampir sarapan di kantin, anggota BTW Coy lagi ngumpul.

“OK, hari sabtu nanti BTW Coy jadi ‘Jungle Tracking’, segera buat poster yang besar, pasti banyak anggota baru yang tertarik.” Waskito, ketua umum BTW Coy ,mengakhiri meeting singkat di kantin.


@@@@@@

 Minggu pagi, istri Paijo dengan bibir nambah 2 centi ngomel melihat suaminya masih meringkuk di ranjang. Yang diomelin cuman bisa meringis menahan pegal-pegal diseluruh badan. Ini hasil dari ‘Jungle Tracking’ kemarin. Seluruh badan Paijo terasa remuk redam. Track yang diambil memang tidak cocok bagi pemula seperti Paijo. Jalan naik turun terjal menanjak dengan jarak tidak kurang 40 km membuat anggota baru BTW Coy ini tumbang. Gengsi dan rasa malu dengan anggota yang lain membuat Paijo masih bisa sampai garis finish.

“Bune, aku tak keluar dulu sebentar ya, mau pijat, badan pegal semua.” Paijo pamitan ke istrinya sambil manasin mesin mobil yang usianya hampir 10 tahun tapi masih cukup kinclong terawat, hasil jerih payahnya bekerja.

Memang sebenarnya Paijo itu tipe orang yang rajin, ulet dan cukup jujur walaupun kadang dibodohin teman-temannya. Sebetulnya banyak tawaran dari supplier untuk sekedar mengganti mobil tuanya dengan mobil keluaran terbaru asal tender mereka gol, maklum Paijo kan cukup berpengaruh sebagai kepala bagian logistic. Tapi entah kenapa Paijo selalu menolaknya.

Paijo menepikan mobilnya di depan bangunan dua lantai yang cukup bagus. Di depan terpampang box neon warna biru ‘Java Dunia – Shiatsu & Sauna’. Dua resepsionis cantik menyambut Paijo dengan senyum ramahnya.

“Selamat pagi, Pak. Silahkan mau yang paket Lux atau VIP..?” mbak resepsionis senyum sumringah.
“Apa aja deh Mbak, yang penting pegel ilang.”
“Wah, nggak usah khawatir Pak, therapist di sini professional semua, dijamin deh, Pak.” si mbak yang satu menimpali.

Suasana ruangan cukup membuat Paijo relaks. Ranjang cukup empuk dengan cetakan lubang buat kepala menelungkup. Dua lembar handuk putih tebal tertata rapi di tepi ranjang. Kamar mandi dengan bath up dan shower berada di sudut kamar. AC dingin dan music yang mengalun ringan membuat suasana ruangan dengan lampu temaram itu sedikit menghilangkan pegal di badan Paijo.

“Thok..thok..!!” Paijo bergegas membuka pintu. Seorang gadis yang cukup cantik berdiri di depan pintu. Kaos hitam ketat membungkus badannya, rok mini yang juga berwarna hitam tidak sanggup menutupi pahanya yang cukup mulus. Rambut terurai sebahu dengan lesung pipit menambah cerah senyum yang merekah dari sepasang bibir merah muda dengan sebaris gigi kecil-kecil putih bersih di depan Paijo.

“Boleh masuk, Pak? Saya therapist-nya.” Kata gadis tadi sambil mengangkat baki kecil berisi cream dan lotion, melihat Paijo yang tertegun di depan pintu dengan mulut sedikit menganga.

Paijo jadi mati gaya sesaat, dia buka baju dan langsung menelungkup di ranjang. Siap dipijat.
“Dibuka semua saja pakaiannya, Pak. Nanti kotor kena cream gimana?”
“Tapi…Mbak..”
“Nggak papa, Pak. Kenapa harus malu, kan cuman ada kita berdua di sini” si gadis membuat Paijo sekali lagi mati gaya.
 

@@@@@@

 “Pakne, kenapa musti manggil Mbah Siyem dukun pijat bayi kampung sebelah segala sih..! bukannya barusan habis pijat..?” istri Paijo dengan bibir 2 setengah centi-nya nyerocos.

“Walah Bune, pijatnya nggak jadi. Ban mobil tadi malah kempes, tambah pegel nih badan ganti ban serep.” Paijo buat alasan ke istrinya. “Waduh, kalo’ tau kejadian tadi bisa perang teluk nih di rumah. Badan pegal nggak hilang, lemes mah iya..” batin Paijo mengingat kejadian di Java Dunia tadi.

“Den Paijo memang habis nyangkul tegalan kulon ndeso apa, kok nggak biasanya pegel-pegel minta pijet..?” tanya Mbah Siyem sambil memainkan jemarinya yang mulai keriput di betis Paijo.
“Kok nyangkul to, Mbah? Kan ada si Parjo. Ini tuh critane kemarin kan habis sepeda santai sama konco-konco kantor, Mbah.” Paijo sewot dikira habis nyangkul tegalan.
“Lha wong sepeda santai kok malah pegel-pegel to, Den Paijo. Kudune kan jadi sehat, ya to.?”
 “Ya begitu, Mbah. Kepengennya olahraga biar sehat lha kok ya konco-konco itu milih jalur sepeda-an jauh…naik turun...arep copot rasane dengkule, Mbah..!” Paijo malah jadi curhat ke Mbah Siyem.
“Kalo’ naik sepeda jangan sering-sering lho, Den Paijo.”
“Lho, emang kenapa Mbah..?”
“Bisa turun berok nanti, Den.., lha kan Den Paijo dah ada mobil, enak..nggak perlu tenaga.” Kata Mbah Siyem sambil sedikit termenung. Perlahan ingatan pada suaminya terlintas di benak Mbah Siyem. Kondisi  yang serba susah memaksa dia harus bekerja serabutan demi menghidupi keluarga. Dia masih ingat, dulu tiap hari suaminya harus pulang pergi kerja naik sepeda. Bukan seperti alasan Paijo untuk berolahraga, tapi memang itu satu-satunya sarana transportasi yang bisa mengantarkannya sampai ke pasar tempat dia jadi buruh panggul tanpa megeluarkan biaya selain tetesan keringat. Jarak pasar kota cukup jauh membuat suami Mbah Siyem sering mengeluh sakit bagian bawah perut. Demi menghidupi keluarga semua keluhan tidak dirasakan, tangisan lapar anak-anaknya yang berjumlah empat orang seakan jadi obat paling mujarab penghilang rasa nyerinya.



Mbah Siyem mengakhiri pijatannya dengan pelan, takut membangunkan Paijo yang rupanya terlelap keenakan oleh pijitan Mbah Siyem, mungkin juga sedang mimpi dipijat gadis Java Dunia.
 

@@@@@@

 “Pak Paijo, kalo’ kali ini beneran sepeda santai, jadi musti ikut. Saya catat di daftar peserta ya, Pak?” Waskito menyambut Paijo saat sarapan pagi di kantin. Hari minggu besok ada acara ulang tahun kabupaten. Akan diadakan parade sepeda santai dan pertunjukan kesenian serta bazaar di pendopo kabupaten. Pak Bupati sendiri yang akan memimpin rombongan sepeda santai.

Paijo tertawa lebar sambil melepas kacamatanya yang berkilau saat sampai di garis finish. “Nah, ini baru namanya sepeda santai, tidak bikin badan pegal.”



@@@@@@

Suara music dangdut mengalun dari panggung di depan pendopo kabupaten. Spanduk besar terpampang di atasnya “Bike to Work : StopGlobal Warming”. Berbagai slogan lain bertebaran di sekeliling panggung, “Save Our Planet”, “Let’s Go Green”, “Irit BBM” dan bahkan issunya grup band “Efek rumah kaca” bakal manggung di situ.

Di lapangan belakang pendopo digelar bazaar dengan tenda-tenda yang bertebaran di sekeliling lapangan. Suasanya begitu meriah. Sebuah stand tampak dipenuhi pengunjung. Sebuah distributor resmi merek sepeda terkenal rupanya ikut ambil bagian pada acara kali ini. Berbagai macam jenis sepeda dipajang di situ. Dengan iming-iming harga murah dan diskon untuk 100 orang pertama, bahkan dapat hadiah langsung, membuat pengunjung berjubel. Seorang pejabat kabupaten terlihat  sedang mencoba mengangkat sepeda yang baru dibelinya. Sepeda yang katanya kuat tapi seringan kapas karena terbuat dari material super alloy itu ditebusnya seharga 25 juta. Katanya buat anaknya ke sekolah daripada tiap hari harus tergantung si Dalimin, tetangganya yang tukang ojek, untuk nganterin. Diiringi decak kagum orang sekelilingnya dia minta anaknya mencoba sepeda barunya. Dengan malu-malu si anak berbisik ke telinga ayahnya, “Pa, aku kan belum bisa naik sepeda. Besok aja minta diajarin Mas Dalimin.”

Orang-orang tiba-tiba ramai berlarian dan saling berebutan. Ternyata di salah satu stand sedang ada pembagian biscuit dan makanan kecil gratis. Situasi bener-bener kacau. Saling berebut, saling dorong, saling lempar, anak-anak kecil menjerit keinjak-injak. Suatu pemandangan yang sering kita lihat di televisi saat pembagian sembako gratis. Salah satu sifat dasar manusia yang serakah terlihat di sana. Bagaimana dengan segala cara berusaha mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara menjegal, mendorong atau pun menginjak temannya. Sungguh liar…

Sementara di panggung tampak semakin panas juga, sesuai dengan tema Global Warming. Bukan hanya karena memang sudah semakin siang sehingga panas matahari mulai membakar, tapi aksi panggung sang biduanita lah yang menambah panas. Sepertinya si penyanyi tahu persis bagaimana cara mengaktualisasikan diri untuk meresapi makna Global Warming. Itu dibuktikan dengan pemlihan kostum yang serba mini, membuat industry tekstil mengurangi pasokan bahan baku pembuatan pakaian, hemat.

Paijo berdiri tertegun di samping sepedanya, melihat sekelilingnya yang tiba-tiba terasa semakin panas. Sayup-sayup terdengar sang biduanita berteriak nyaring ke penonton “Goyang terus, Mas…Tambah Bensinnya Mas…Pertamax....Stop Global Warming…!!”

 

It's All About Bicycle


 
Back to Top