Bicycle4you ~ It's All About Bicycle | Members area : Register | Sign in
Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Bike to Work : (Mati Gaya) Pertamax Tanpa Subsidi

Saturday, March 24, 2012


Senin pagi suasana begitu cerah. Udara segar terasa sejuk masuk ke rongga paru-paru. Bak seorang atlet profesional, lengkap dengan helm dan kostum warna-warni, tidak ketinggalan kacamata berwarna kemilau layaknya kaca film mobil, Paijo dengan santai mengayuh pedal sepeda gunungnya. Logo emblem ‘bike to work’ menggelantung berayun di bawah sadel sepedanya.



Start your engine...(Doc : Pribadi)
Ya..sudah seminggu terkahir ini Paijo rutin pulang pergi kerja dengan sepeda barunya. Ini berawal dari kejadian seminggu yang lalu.


“Bune, konco-konco kantor itu punya rencana mbikin club sepeda lho..! nama club-nya apik tenan lho..’BTW Coy..!’, artine Bike to Work Community. Bener-bener keren…top..apik tenan to, Bune..?” Paijo membuka intro percakapan dengan istri tercintanya yang dari tadi terlihat manyun, mikirin harga sembako yang kian membumbung tinggi.

“Trus maksudnya apa to, Pakne…? Mau pengen beli sepeda baru gitu, piye..?” sambil bersungut tambah dua centimeter bibirnya.
“Lha mbok pake’ sepedane Thole sing BMX itu kan yo bisa to..?” istrinya nambahin.
“Walah Bune, yo gak keren…apa kata dunia..ehh…konco-konco nanti, kepala bagian logistic kok beli sepeda aja gak bisa.”
“Lagian ini kan sebagai program penghematan juga, Bune. Kalo’ tiap hari pulang pergi kerja naik sepeda kan bisa irit. BBM buat mobil kita kan bisa berkurang, denger to kalo’ bulan ngarep mau naik lagi tu hargane? trus satu lagi nilai tambah yang tidak kalah penting, sambil olahraga, badan sehat dan mengurangi polusi udara. Bune tau efek rumah kaca..? global warming..?” Paijo memperkuat argumennya demi mendapatkan kucuran dana pembelian sepeda barunya.

“Yo wis karepmu, Pakne. Global warming opo Gombal amoh nggak mudeng, yang penting berarti uang belanja bisa nambah, Thole dapat uang saku lebih banyak buat nabung,to..?” Istrinya yang tontonan tiap harinya cuma sinetron  dan gossip selebrity menimpali omongan Paijo.

“Kalau dihitung-hitung, jarak rumah dan kantor tempat kerja hampir 10 km. Konsumsi rata-rata BBM 1 liter tiap 10 km, artinya pulang pergi 2 liter. Harga bensin subsidi 6 ribu (kalo’ jadi naik), lha wong harga minyak dunia kan naik jadi ikut naik…turun..ikut turun..(lha kok senengnya cumin ikut-ikutan ya.?) Kalo’ harga dunia naik trus kita bisa bertahan…itu baru keputusan yang top markotop..tak iye..:)
 Jadi dengan naik sepeda kan lebih irit 12 ribu, lumayan buat tambahan uang saku Thole.” Batin Paijo mencoba membuat kalkulasi, dia kan kerjaanya bagian pengadaan barang, biasa itung-itungan buat nawar harga.

Rupanya Paijo sedikit membuat kesalahan kecil dengan melupakan side effect dari bersepeda. Karena tidak terbiasa bersepeda, alhasil keringat bercucuran, capek dan lapar. Sampai tempat kerja harus menyempatkan diri mengunjungi kantin, sarapan lagi. Kebiasaan Paijo mentraktir teman-temannya menambah bengkak budget hariannya. Alhasil minimal 20 ribu dia keluarkan. “Yang penting olahraga, badan sehat” Paijo masih mencoba buat rasionalisasi.

Pagi itu seperti biasa sehabis mampir sarapan di kantin, anggota BTW Coy lagi ngumpul.

“OK, hari sabtu nanti BTW Coy jadi ‘Jungle Tracking’, segera buat poster yang besar, pasti banyak anggota baru yang tertarik.” Waskito, ketua umum BTW Coy ,mengakhiri meeting singkat di kantin.


@@@@@@

 Minggu pagi, istri Paijo dengan bibir nambah 2 centi ngomel melihat suaminya masih meringkuk di ranjang. Yang diomelin cuman bisa meringis menahan pegal-pegal diseluruh badan. Ini hasil dari ‘Jungle Tracking’ kemarin. Seluruh badan Paijo terasa remuk redam. Track yang diambil memang tidak cocok bagi pemula seperti Paijo. Jalan naik turun terjal menanjak dengan jarak tidak kurang 40 km membuat anggota baru BTW Coy ini tumbang. Gengsi dan rasa malu dengan anggota yang lain membuat Paijo masih bisa sampai garis finish.

“Bune, aku tak keluar dulu sebentar ya, mau pijat, badan pegal semua.” Paijo pamitan ke istrinya sambil manasin mesin mobil yang usianya hampir 10 tahun tapi masih cukup kinclong terawat, hasil jerih payahnya bekerja.

Memang sebenarnya Paijo itu tipe orang yang rajin, ulet dan cukup jujur walaupun kadang dibodohin teman-temannya. Sebetulnya banyak tawaran dari supplier untuk sekedar mengganti mobil tuanya dengan mobil keluaran terbaru asal tender mereka gol, maklum Paijo kan cukup berpengaruh sebagai kepala bagian logistic. Tapi entah kenapa Paijo selalu menolaknya.

Paijo menepikan mobilnya di depan bangunan dua lantai yang cukup bagus. Di depan terpampang box neon warna biru ‘Java Dunia – Shiatsu & Sauna’. Dua resepsionis cantik menyambut Paijo dengan senyum ramahnya.

“Selamat pagi, Pak. Silahkan mau yang paket Lux atau VIP..?” mbak resepsionis senyum sumringah.
“Apa aja deh Mbak, yang penting pegel ilang.”
“Wah, nggak usah khawatir Pak, therapist di sini professional semua, dijamin deh, Pak.” si mbak yang satu menimpali.

Suasana ruangan cukup membuat Paijo relaks. Ranjang cukup empuk dengan cetakan lubang buat kepala menelungkup. Dua lembar handuk putih tebal tertata rapi di tepi ranjang. Kamar mandi dengan bath up dan shower berada di sudut kamar. AC dingin dan music yang mengalun ringan membuat suasana ruangan dengan lampu temaram itu sedikit menghilangkan pegal di badan Paijo.

“Thok..thok..!!” Paijo bergegas membuka pintu. Seorang gadis yang cukup cantik berdiri di depan pintu. Kaos hitam ketat membungkus badannya, rok mini yang juga berwarna hitam tidak sanggup menutupi pahanya yang cukup mulus. Rambut terurai sebahu dengan lesung pipit menambah cerah senyum yang merekah dari sepasang bibir merah muda dengan sebaris gigi kecil-kecil putih bersih di depan Paijo.

“Boleh masuk, Pak? Saya therapist-nya.” Kata gadis tadi sambil mengangkat baki kecil berisi cream dan lotion, melihat Paijo yang tertegun di depan pintu dengan mulut sedikit menganga.

Paijo jadi mati gaya sesaat, dia buka baju dan langsung menelungkup di ranjang. Siap dipijat.
“Dibuka semua saja pakaiannya, Pak. Nanti kotor kena cream gimana?”
“Tapi…Mbak..”
“Nggak papa, Pak. Kenapa harus malu, kan cuman ada kita berdua di sini” si gadis membuat Paijo sekali lagi mati gaya.
 

@@@@@@

 “Pakne, kenapa musti manggil Mbah Siyem dukun pijat bayi kampung sebelah segala sih..! bukannya barusan habis pijat..?” istri Paijo dengan bibir 2 setengah centi-nya nyerocos.

“Walah Bune, pijatnya nggak jadi. Ban mobil tadi malah kempes, tambah pegel nih badan ganti ban serep.” Paijo buat alasan ke istrinya. “Waduh, kalo’ tau kejadian tadi bisa perang teluk nih di rumah. Badan pegal nggak hilang, lemes mah iya..” batin Paijo mengingat kejadian di Java Dunia tadi.

“Den Paijo memang habis nyangkul tegalan kulon ndeso apa, kok nggak biasanya pegel-pegel minta pijet..?” tanya Mbah Siyem sambil memainkan jemarinya yang mulai keriput di betis Paijo.
“Kok nyangkul to, Mbah? Kan ada si Parjo. Ini tuh critane kemarin kan habis sepeda santai sama konco-konco kantor, Mbah.” Paijo sewot dikira habis nyangkul tegalan.
“Lha wong sepeda santai kok malah pegel-pegel to, Den Paijo. Kudune kan jadi sehat, ya to.?”
 “Ya begitu, Mbah. Kepengennya olahraga biar sehat lha kok ya konco-konco itu milih jalur sepeda-an jauh…naik turun...arep copot rasane dengkule, Mbah..!” Paijo malah jadi curhat ke Mbah Siyem.
“Kalo’ naik sepeda jangan sering-sering lho, Den Paijo.”
“Lho, emang kenapa Mbah..?”
“Bisa turun berok nanti, Den.., lha kan Den Paijo dah ada mobil, enak..nggak perlu tenaga.” Kata Mbah Siyem sambil sedikit termenung. Perlahan ingatan pada suaminya terlintas di benak Mbah Siyem. Kondisi  yang serba susah memaksa dia harus bekerja serabutan demi menghidupi keluarga. Dia masih ingat, dulu tiap hari suaminya harus pulang pergi kerja naik sepeda. Bukan seperti alasan Paijo untuk berolahraga, tapi memang itu satu-satunya sarana transportasi yang bisa mengantarkannya sampai ke pasar tempat dia jadi buruh panggul tanpa megeluarkan biaya selain tetesan keringat. Jarak pasar kota cukup jauh membuat suami Mbah Siyem sering mengeluh sakit bagian bawah perut. Demi menghidupi keluarga semua keluhan tidak dirasakan, tangisan lapar anak-anaknya yang berjumlah empat orang seakan jadi obat paling mujarab penghilang rasa nyerinya.



Mbah Siyem mengakhiri pijatannya dengan pelan, takut membangunkan Paijo yang rupanya terlelap keenakan oleh pijitan Mbah Siyem, mungkin juga sedang mimpi dipijat gadis Java Dunia.
 

@@@@@@

 “Pak Paijo, kalo’ kali ini beneran sepeda santai, jadi musti ikut. Saya catat di daftar peserta ya, Pak?” Waskito menyambut Paijo saat sarapan pagi di kantin. Hari minggu besok ada acara ulang tahun kabupaten. Akan diadakan parade sepeda santai dan pertunjukan kesenian serta bazaar di pendopo kabupaten. Pak Bupati sendiri yang akan memimpin rombongan sepeda santai.

Paijo tertawa lebar sambil melepas kacamatanya yang berkilau saat sampai di garis finish. “Nah, ini baru namanya sepeda santai, tidak bikin badan pegal.”



@@@@@@

Suara music dangdut mengalun dari panggung di depan pendopo kabupaten. Spanduk besar terpampang di atasnya “Bike to Work : StopGlobal Warming”. Berbagai slogan lain bertebaran di sekeliling panggung, “Save Our Planet”, “Let’s Go Green”, “Irit BBM” dan bahkan issunya grup band “Efek rumah kaca” bakal manggung di situ.

Di lapangan belakang pendopo digelar bazaar dengan tenda-tenda yang bertebaran di sekeliling lapangan. Suasanya begitu meriah. Sebuah stand tampak dipenuhi pengunjung. Sebuah distributor resmi merek sepeda terkenal rupanya ikut ambil bagian pada acara kali ini. Berbagai macam jenis sepeda dipajang di situ. Dengan iming-iming harga murah dan diskon untuk 100 orang pertama, bahkan dapat hadiah langsung, membuat pengunjung berjubel. Seorang pejabat kabupaten terlihat  sedang mencoba mengangkat sepeda yang baru dibelinya. Sepeda yang katanya kuat tapi seringan kapas karena terbuat dari material super alloy itu ditebusnya seharga 25 juta. Katanya buat anaknya ke sekolah daripada tiap hari harus tergantung si Dalimin, tetangganya yang tukang ojek, untuk nganterin. Diiringi decak kagum orang sekelilingnya dia minta anaknya mencoba sepeda barunya. Dengan malu-malu si anak berbisik ke telinga ayahnya, “Pa, aku kan belum bisa naik sepeda. Besok aja minta diajarin Mas Dalimin.”

Orang-orang tiba-tiba ramai berlarian dan saling berebutan. Ternyata di salah satu stand sedang ada pembagian biscuit dan makanan kecil gratis. Situasi bener-bener kacau. Saling berebut, saling dorong, saling lempar, anak-anak kecil menjerit keinjak-injak. Suatu pemandangan yang sering kita lihat di televisi saat pembagian sembako gratis. Salah satu sifat dasar manusia yang serakah terlihat di sana. Bagaimana dengan segala cara berusaha mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara menjegal, mendorong atau pun menginjak temannya. Sungguh liar…

Sementara di panggung tampak semakin panas juga, sesuai dengan tema Global Warming. Bukan hanya karena memang sudah semakin siang sehingga panas matahari mulai membakar, tapi aksi panggung sang biduanita lah yang menambah panas. Sepertinya si penyanyi tahu persis bagaimana cara mengaktualisasikan diri untuk meresapi makna Global Warming. Itu dibuktikan dengan pemlihan kostum yang serba mini, membuat industry tekstil mengurangi pasokan bahan baku pembuatan pakaian, hemat.

Paijo berdiri tertegun di samping sepedanya, melihat sekelilingnya yang tiba-tiba terasa semakin panas. Sayup-sayup terdengar sang biduanita berteriak nyaring ke penonton “Goyang terus, Mas…Tambah Bensinnya Mas…Pertamax....Stop Global Warming…!!”

 

It's All About Bicycle


Lagi…Pejabat Ngamuk.. Bongkar Lapak PKL


Long week end kali ini tentu saja tidak boleh disia-siakan dengan berdiam diri di rumah sahaja. Pagi-pagi siap dengan kostum ala atlet sepeda mau ikutan tour de Langkawi..hehhe.. Gowes kali ini dengan target muter seputaran lingkungan sahaja. Maklum hari Jum’at, tidak boleh keasyikan trus lupa deh jalan pulang..hihi…

Mentari perlahan mulai muncul malu-malu dengan semburat merah merona pipinya..bak seorang perawan malu-malu ketauan bangun kesiangan..(jauh amat yak..hihihi..). Perlahan meyusuri jalanan yang setiap harinya selalu ramai dengan kemacetan. Orang-orang yang sibuk berangkat kerja melewati jalan yang sama dengan kanan kiri dipadati pedagang kaki lima (PKL) yang menyita hampir separo badan jalan. Sampai sekarang sebenernya masih kepikiran..kenapa sih disebut pedagang kaki lima ya..?? Di lihat tampak depan, tampak samping maupun belakang..mana ya kakinya..?? heran deh..:D


Gowes meyusuri PKL (Doc : CBC)
 
Tapi pagi ini suasana sedikit berbeda, kemacetan yang biasanya sudah jadi langganan setia..bahkan boleh ngutang dulu bayar besok..(loh..kok jadi ngmongin warteg sih…hihhi..), maksudnya pagi ini jalanan relatif sepi..lancar jaya. Lho..kenapa ya.?? Ooo..iya ya.. (dg gaya si TemonJ) kan hari ini libur..pantesan ndak macet..hehe..


Ketika sedang asyik muter pedal dengan gaya bak nyiur di pantai yang tertiup angin sepoi-sepoi..(sepeda santai apa lemes blm sarapan ya..? J ), tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara sirine yang meraung-raung. Sedikit kaget akhirnya pitstop, nengok ke belakang apa gerangan suara tadi ya..? terlihat di belakang sebuah mobil besar mirip Hummer dengan roda besar, sekilas bahkan mirip dengan dandanan panser.
Tidak lama kemudian terdengar suara dari mobil tersebut melalui pengeras suara.
“Sodara-sodara sekalian..Bapak Ibu pedagang yang berjualan di kanan kiri jalan ini.. dimohon untuk segera membereskan dagangannya. Cara berjualan Bapak Ibu sekalian ini illegal..mengganggu kepentingan pemakai jalan. Peringatan ini kita lakukan dengan perhitungan mundur satu menit dari sekarang…segera laksanakan…60..59..58…”

Sedikit shock mendengar suara lengkingan pengeras suara dari mobil tadi. Awalnya para pedagang cuma saling berpandangan, kasak kusuk antar mereka. Tapi..begitu hitungan mundur terus terdengar dan perlahan-lahan truk raksasa bak panser tadi bergerak ke depan, mulai riuh rendah para pedagang sibuk membereskan barang dagangannya.
“..10..9..8…..….5…4...”
Terdengar suara hitung mundur hampir habis. Masih dalam posisi diam di tempat, masih blank pikiran menyaksikan kejadian yang begitu cepat. Hitungan mundur sudah habis di angka 1. Perlahan tapi pasti truk raksasa bergerak maju. Orang-orang mulai berteriak-teriak saling sibuk berlarian. Lapak pertama di ujung semakin dekat dengan roda besar truk raksasa. Tanpa ragu-ragu..roda besarnya langsung menghaajar…menggilas..membuat porak poranda lapak para pedagang tersebut. Orang-orang makin panic dan tambah berteriak-teriak mengingatkan pedagang yang ada di sisi ujung jalan. Barang-barang yang tidak sempat dibereskan para pedagang..habis porak poranda tanpa terselamatkan. Suasana benar-benar chaos saat itu. Dalam sekejap…luluh lantak semua lapak non permanen para PKL yang berjualan di sepanjang jalan tersebut. Sungguh cepat semua terjadi, bahkan tidak sempat terabadikan oleh kamera saking shock-nya dengan kejadian tersebut.

Setelah puas membuat porak poranda sepanjang jalan, truk raksasa tadi berhenti di ujung jalan. Orang-orang pada berlarian dengan sedikit beringas, tidak terima denga tindakan trsebut. Wah..wah..nekat bener itu orang ya..?? kalo’ dilihat itu bukan dari aparat kepolisian atau minimal Satpol PP yang biasa menertibkan para PKL. Dengan sedikit tegang dan rasa ingin tahu yang besar…dan dengan sedikit mengabaikan keselamatan karena kondisi kian memanas, sepeda dipacu mendekati truk raksasa itu.

Perlahan pintu truk terbuka..dan turun lah seorang Bapak dan Ibu dari atas dengan sedikit kesulitan karena roda yang besar dengan diameter lebih tinggi dari orang dewasa. Massa yang terlihat beringas merangsek ke depan, apalagi melihat kedua orang tersebut sama sekali tanpa pengawalan aparat. Terlihat kedua orang tersebut tenang..tidak panic sama sekali. Tangan kanan sang Bapak menyerahkan microphone buat Ibu di sampingnya dan terdengar suara dari megaphone yang di pegang si Bapak.
“Sodara-sodaraku sekalian..harap tenang..dan dengarkan. Kami adalah pemimpin baru kalian yang telah kalian pilih dan percaya untuk memimpin daerah ini. Dan inilah aksi nyata pertama kami untuk mewujudkan janji-janji kami saat masa kampanye dulu”
Bagaikan terhipnotis, orang-orang seketika terdiam. Dan mulai terdengar kasak kusuk beberapa orang dari belakang.
“Iya..benar..itu adalah si Eneng dan wakilnya..kepala daerah terpilih pemilukada kemarin..”
Wah..wah…semakin bingung ni melihat kejadian aneh ini…tindakan ekstrim kedua orang pejabat ini mengingatkan pada kasus mengamuknya Pak Dahlan Iskan.

Tidak berapa lama kemudian, si Bapak naik lagi ke dalam truk dan keluar dengan membawa sebuah tas. Di buka tas tersebut dan dia keluarkan beberapa berkas. Ibu-ibu yang tadi disebut sebagai Eneng kemudian bersuara lagi.
“Teman-temanku pedagang sekalian, perintah untuk mengosongkan lapak-lapak Bapak Ibu sebenarnya sudah dikeluarkan beberapa waktu yang lalu, dan kami telah mendata semua pedagang yang berjualan di sepanjang jalan ini. Tapi sampai detik ini, peringatan tersebut tidak Bapak Ibu indahkan, sehingga dengan terpaksa kami berdua turun tangan untuk membereskan ini.”
Para pedagang tampak mulai riuh rendah saling berkomentar. Ada yang membenarkan adanya surat peringatan terssebut..ada juga yang berteriak tidak terima dengan perlakuan kedua pemimpin daerah tersebut. Si Eneng kemudian melanjutkan bicaranya dengan lebih lantang.
“Relokasi baru yang legal dan layak buat Bapak Ibu sudah disiapkan. Silahkan berbaris teratur untuk verivikasi data. Semua kerugian yang timbul akibat kejadian ini akan kami ganti 100%.”
Masih terbengong-bengong di atas sadel sepeda menyaksikan kejadian ini. Dengan berbaris teratur para pedagang bergantian untuk di data dan mendapat kompensasi ganti rugi yang telah dalam tas yang dibawa si Bapak tadi.


@@@@@@@@


“Mas…mau tambah bubur ayamnya..??” tiba-tiba ada suara yang mengagetkan saia yang terbuai dalam lamunan sambil megang mangkok yang sudah ludes…hehehe…

Tetttt…totttt…..yak..cerita di atas hanyalah fiktif belaka..hasil melamun (jorok) menikmati semangkok bubur ayam di pinggir jalan…hihihiihi…Kembali ke dunia nyata…para pedagang masih asyik dengan dagangannya melayani para pembeli. Balik lagi jadi ingat dua tokoh yang sedang dibicarakan di media belakangan ini, yaitu sosok Dahlan Iskan da Joko Wi. Pak Dahlan Iskan yang mengamuk di jalan tol dan mendapatkan berbagai respon dari berbagai kalangan membahas sepak terjangnya tersebut. Di sisi lain ada Joko Wi yang disebut-sebut berhasil merelokasi para PKL dengan sukarela setelah melalui 57 kali mediasi.



Pak DI ngamuk di tol  (pic: Google)
Bisa dilihat crita si Eneng di atas sedikit ekstrim menggabungkan action yang dilakukan oleh kedua pejabat  kita tersebut. Memang kalo’ dilihat dari sudut pandang positif, kedua pejabat ini melakukan suatu tindakan perubahan yang terlihat bertolak belakang. Dahlan Iskan dengan gaya sporadis..langsung take action terhadap penyimpangan yang terjadi sedangkan Joko Wi melakukan pendekatan lain untuk melakukan perubahan tersebut.


Dari kacamata psikologis, manusia butuh yang namanya shock therapy untuk keluar dari “kebiasaan” yang sudah dianggap “normal”. Dari kacamata teori fisika ilmiah, tentunya temen-temen masih ingat tentang Hukum Newton pas jaman eSeMA dulu kan..?  Hukum Newton I berbunyi demikian :
Sifat lembam benda adalah sifat mempertahankan keadaannya, yaitu keadaan tetap diam atau keadaan tetap bergerak beraturan.” 
Hukum ini intinya menerangkan bahwa setiap benda cenderung akan mempertahankan keadaannya (baik itu keadaan diam atau bergerak) kalau ada tindakan kepadanya dengan mendadak, tetapi kalau tindakan yang mempengaruhinya perlahan-lahan, maka si benda tadi akan terpengaruh.

Jadi yang namanya kebiasaan itu akan menjadi sebuah “budaya” yang akan perlahan-lahan melekat. Apa jadinya coba kalo’ hal negative yang mempengaruhi secara perlahan tapi pasti, sudah dianggap hal yang biasa, wajar, normal. Butuh sebuah gerakan “mendadak” untuk bisa mengingatkan kita yang salah arah. Contoh simple ketika kita bergerak mengendarai mobil,  kalau Kita naik mobil dengan cepat lalu di rem mendadak, maka Kita akan terdorong ke depan.

Demikian juga ketika terjadi kondisi yang statis, tindakan “mendadak” tidak akan menghasilkan efek buat kondisi tersebut. Pernah coba eksperimen dengan meletakkan selembar kertas di atas meja dan sebuah gelas di atas kertas tadi. Lalu coba tarik kertas dengan cepat,.. ajaib…. Si gelas tak jatuh ketarik, goyang pun tidak. Bagaimana kalo’ kertas tad ditarik perlahan..yup..si gelas akan ikut bergerak mengikuti kertas.


Gimana..?? Bingung dengan ilustrasi di atas yak..?? sama donk…hehhehe… Pointnya adalah bahwa butuh tindakan yang tepat untuk menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapi. Jadi kalo’ kita jadi seorang jagoan dan melawan banyak musuh ya jangan hanya pakai satu jurus…terapkan jurus-jurus yang berbeda untuk musuh yang beda juga..kalo’ jurusnya Cuma itu-itu doank lama-lama musuhnya bisa komen…”ahh..jurus itu lagi ya..dah basi ahh..” hihihi…

Ok deh…cukup sekian yak..lanjut makan bubur lagi…mumpung belum basi…hehe…

Salam Gowes,
  
It's All About Bicycle


 
Back to Top