Bicycle4you ~ It's All About Bicycle | Members area : Register | Sign in

Ketika Anugerah Menjadi Sebuah Musibah (Jokowi Ikuti Jejak Saya Menerjang Banjir Ibukota)

Monday, January 20, 2014




13901542111922795837
Perahu di depan rumah (Doc: CBC)

Jaman kecil saya di era tahun 80-an, musim hujan merupakan saat-saat yang menggembirakan. Masih tergambar jelas di memori bagaimana senangnya ketika bermain bola di tengah hujan deras yang mengguyur. Gelak tawa ceria bersama teman-teman ketika bermain prosotan di lereng terjal berlumpur.

Sampai dengan era tahun millenium saya tinggal di kampung halaman yang tenang, sejuk dan nyaman ketika musim penghujan datang. Selepas menyelesaikan bangku kuliah saya ikut mengadu nasib di ibukota. Mengabaikan lirik lagu “Siapa Suruh Datang Jakarta“, akhirnya saya menetap di daerah pinggiran ibukota sampai dengan saat ini ditemani istri tercinta dan duo krucil yang ceria. Meskipun sering membaca dan melihat berita banjir tahunan yang melanda ibukota, saat awal menetap di pinggiran Jakarta, kami tidak pernah terbayang banjir dan tenang karena sampai saat itu daerah kami masih “bebas banjir”. Hingga pada suatu pagi di awal tahun 2007 menjadi pengalaman pertama bersentuhan dengan banjir.

Tepat satu hari setelah prosesi aqiqah anak kami yang pertama, sehabis subuh sekitar jam 5 pagi kami dikagetkan dengan fenomena yang baru pertama kami alami. Air deras mengalir di jalan depan rumah. Perlahan tapi pasti alirannya semakin deras dan mulai masuk ke teras rumah. Sama sekali tidak terbayang dan tidak terpikir bahwa itu adalah BANJIR. Masih sedikit takjub dan bingung dengan apa yang sedang terjadi, saya malah asyik melihat di luar rumah barang-barang yang hanyut terbawa air. Tidak terpikir sama sekali bahwa air yang semakin cepat dan deras mengalir kian meninggi dan siap masuk pintu rumah tanpa permisi. Maklum, pengalaman pertama yang sungguh spektakuler.

Tidak memakan waktu lama kira-kira satu jam lebih air sudah mulai melewati teras dan menerobos masuk ke dalam rumah. Tetangga juga terlihat panik. Mobil di garasi masing-masing segera berseliweran keluar ke area yang lebih tinggi. Air di jalanan sudah naik setinggi pinggang orang dewasa dan semakin naik lagi. Dengan minimnya pengalaman dan sedikit banyak panik, berbagai macam barang di dalam rumah yang berada di bagian bawah tidak sempat untuk diselamatkan dan akhirnya terendam air kotor kecoklatan sepeti air susu yang pasti tidak manis rasanya. Kulkas dan mesin cuci langsung tenggelam bak perahu karam. Bahkan vacum cleaner yang tinggal diangkat saja tidak sempat terselamatkan. Dua buah motor yang dimasukkan ke dalam rumah di belakang juga menjadi korban tidak sempat dikeluarkan karena air di jalan sudah terlanjur tinggi. Yang paling parah adalah lemari pakaian yang ikut terendam. Meski tidak semua bagian terendam, kebetulan kami menata semua celana ada di bagian terbawah…dan tidak sempat diselamatkan juga. Alamat side a side b nunggu kering nih *nyengir.

Semenjak pengalaman pertama kebanjiran tersebut, setiap masuk musim penghujan kami menjadi sedikit was-was. Bukan tetesan air dari atap bocor yang kami khawatirkan, tapi munculnya air dari jalanan yang nyelonong masuk tanpa permisi atau pun basa-basi. 7 tahun kami lewati dengan aman meskipun setiap hujan tiba menjadi lebih waspada. Meski rumah kami “sementara” bebas banjir, banyak daerah di sekitar kami yang setiap tahunnya mengalami nasib sama dengan pusat ibukota. Air menggenang betah di dalam rumah tidak mau pulang sudah hal biasa bagi penduduk yang langganan banjir. Tahun lalu kami bersama komunitas sepeda CBC sempat melakukan aksi baksos untuk membantu para korban banjir di sekitar tempat tinggal kami, kisahnya bisa dibaca di tulisan “Menyusuri Jejak Korban Banjir”.

Ketika tahun ini memasuki musim hujan dan banjir kembali melanda beberapa wilayah di tanah air, kembali teman-teman CBC mengadakan aktivitas baksos. Hari Minggu ini kembali melakukan aktivitas yang sama seperti tahun kemarin, tapi sayangnya saya dan keluarga tidak bisa ikut serta. Kenapa? Rumah kami juga sedang dalam status siaga. Ya, hujan yang terus menerus mengguyur selama beberapa hari terakhir ini sempat membuat air menyentuh bibir batas teras pada sabtu dini hari. Gelombang yang tersapu ketika ada mobil lewat depan rumah bahkan membuat air sedikit malu-malu melewati pintu depan. Berbekal pengalaman pertama 7 tahun yang lalu, dengan sigap mobil segera diungsikan ke area lebih tinggi. Barang-barang segera naik ke atas, tidak lupa celana di tumpukan lemari terbawah naik kasta. Gerak cepat dilakukan meski membuat seisi rumah seperti kapal pecah, paling tidak untuk minimalisir dampak apabila air dengan  senang hati mengajak bala tentaranya masuk ke dalam rumah. Alhamdulillah setelah begadang menjelang subuh air mulai surut dan pamit jalan lagi sebelum mengetuk pintu rumah.

Kampung halaman saya tidak jauh dari kota Solo. Meski Solo pernah mengalami banjir akibat luapan Bengawan Solo, Jokowi mungkin sama dengan saya ketika menginjakkan kaki di ibukota, geleng-geleng kepala menghadapi banjir dimana-mana. Sebagai orang nomor satu di ibukota, Jokowi dituntut untuk berpikir keras menghadapi masalah satu ini. Banjir merupakan masalah yang cukup kompleks untuk diurai benang kusutnya. Meski banjir tahun ini tidak hanya melanda Jakarta saja, problem yang ada sedikit beda dengan di daerah. Sistem drainase dan tata kota menjadi salah satu pemicu utama banjir ketika menghadapi curah hujan yang tinggi. Di kampung halaman saya sampai saat ini masih aman dan bebas banjir karena memang masih cukup banyak daerah resapan. Sangat jauh berbeda dengan kondisi Jakarta. Daerah resapan sudah berubah menjadi mall dan perumahan. Sungai yang berubah menjadi aliran sampah berjalan.

Sebenarnya cukup sederhana kalau kita lihat dari ilmu fisika alam bahwa air akan mengalir dari satu titik ke titik lain yang lebih rendah. Secara alamiah, titik terendah sebagai tempat tujuan air adalah lautan luas. Kita juga seringkali mengambil patokan ketinggian suatu tempat diukur dari atas permukaan laut, hal ini menunjukkan bahwa laut merupakan titik nol atau sebagai datum ketinggian permukaan tanah. Dari kenyataan ini satu point yang bisa kita ambil untuk mengatasi masalah banjir ini adalah dengan mengatur lagi tata kota dengan sistem drainase yang bagus untuk mengalirkan air menuju tempat akhir yang seharusnya, yaitu lautan luas. Cara ini pastilah tidak mudah dengan kondisi yang ada saat ini. Hal yang bisa dilakukan dengan infrastruktur yang ada saat ini adalah dengan normalisasi aliran sungai yang ada. Pengerukan kedalaman sungai sehingga bisa menambah debit air yang lewat.

Mungkin ada perbedaan ketinggian yang tidak beraturan karena kontur tanah atau bangunan yang sudah ada sehingga aliran alami air ke titik lebih rendah menjadi terhambat. Hal ini bisa diatasi dengan membuat sumur-sumur resapan di titik-titik tertentu. Cara paling sporadis yang bisa dilakukan adalah membuat lubang biopori di halaman rumah masing-masing, seperti yang kami terpakan di halaman sempit rumah mungil kami.

Kebiasaan buang sampah sembarangan juga merupakan pemicu utama masalah banjir ibukota. Kesiapan infrastruktur dan kesigapan petugas kebersihan menjadi hal yang cukup penting. Contoh dari seorang pemimpin juga merupakan pendorong sporadis bagi penduduk untuk mengikuti apa yang dilakukan pemimpinnya. Disiplin dengan dimulai dari diri sendiri ketika sudah menjalar ke masing-masing orang akan memberikan dampak viral yang cukup signifikan. Ketika seorang pemimpin tidak peduli dengan rakyatnya maka rakyat akan menjadi tidak peduli dengan yang mereka perbuat dan akibat selanjutnya.

Meski untuk “sementara” kondisi aman, rasa was-was senantiasa muncul ketika hujan deras terus menerus mengguyur bumi sepanjang hari. Hujan yang dulu merupakan momen yang dinanti ketika masa kecil di kampung halaman, kini berubah menjadi sebuah momok yang ditakuti. Hujan yang merupakan anugerah buat para petani, sekarang menjadi musuh yang merendam hasil pertanian dan mengancam gagal panen. Benar-benar bagaikan anugerah yang menjadi sebuah musibah. Kenapa hal ini bisa terjadi? Mungkin benar apa yang dikatakan Ebiet G. Ade ini..
Mungkin Tuhan mulai bosan.
Melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…
Mari kita lihat bersama apakah Jokowi berhasil mendapatkan jawaban dari rumput yang bergoyang.. ^_^

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Pelajaran dari Jatuhnya Seorang Pemimpin

Wednesday, January 15, 2014



1389717736176544983
Atap Plafon KPK Jebol (pic: rmol.co)

Jangankan banjir, hujan saja bisa menjatuhkan seorang pemimpin. Lho kok bisa? Coba kita lihat realita yang terjadi di kehidupan ini. Dan ini kisah nyata ketika musim penghujan tiba maka kredibilitas dan kapabilitas seorang pemimpin diuji, bagaimana dia bisa mengantisipasi masalah yang muncul akibat fenomena alam ini.

Hujan yang terus-menerus mengguyur ibukota mengakibatkan banjir di mana-mana, Jakarta terkepung air. Sebagai orang nomer satu yang memimpin ibukota, nama Jokowi menjadi sorotan utama. Bagaimana aksi yang dilakukannya dan jangan sampai salah melangkah karena bisa berakibat fatal, jatuh misalnya, karena jalanan licin dan kurang hati-hati akhirnya terpeleset.

Bicara mengenai hujan, banjir dan seorang pemimpin, saya tidak ingin banyak mengulas tentang kepemimpinan Jokowi, terlalu banyak sudah media membicarakannya, tambah terkenal nanti kalau saya ikut-ikutan menulis tentang Jokowi. Apalagi Jokowi memang sudah terkenal, minimal dibanding saya. Lah, kok malah mbahas Jokowi terus, giliran saya kapan?

Kenapa saya? Ya, karena tadi kan membahas masalah hujan, banjir dan jatuhnya pemimpin. Dan bukan sebuah kebetulan kalau saya juga adalah seorang pemimpin, karena berdasarkan catatan KUA, saya adalah seorang suami yang artinya pemimpin keluarga. Ditambah lagi dokumen dari catatan sipil yang menyatakan saya sebagai seorang Ayah, berarti pemimpin rumah tangga kan? Kalau Anda masih jomblo pun nggak usah khawatir, atau pun rins* tet sensor iklan, risoles maksudnya…ehh…riso dapur..halah..risau bin galau lebih tepatnya, karena sejatinya kita adalah pemimpin dari diri kita sendiri (kittaa..?? elu aja kalee..)

Banyak pelajaran yang telah saya petik sebagai seorang pemimpin hari ini. Jadi ceritanya berawal ketika hujan deras yang mengguyur bumi ini tiada henti berhari-hari dari kemarin. Efeknya adalah terjadi banjir di mana-mana. Semua orang dibuat susah. Air menggenang di jalanan yang berakibat jalanan macet tidak bisa lewat. Sungai meluap, air masuk rumah. Orang-orang harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Benar-benar nyusahin memang hujan ini. Ehh…maaf, nggak boleh ngeluh, karena air hujan yang tercurah dari langit itu merupakan anugerah dari Sang Maha Kuasa untuk kehidupan kita di bumi ini, jadi wajib disyukuri. Tapi memang bener-bener deh hujan kali ini, atap pada bocor, air netes di mana-mana, sibuk nyiapin panci tadah air sana-sini, nyusahin lah pokoknya. Eiittss…masih mengeluh juga. STOP!

Ok, lanjut lagi deh ceritanya. Efek dari hujan yang merupakan anugerah tadi, sudah nggak ngeluh lagi, membuat jiwa kepemimpinan saya sebagai seorang pemimpin keluarga tertantang. Bagaimana tidak, coba bayangin ketika lagi asyik tidur tiba-tiba merasakan sensasi tetesan air jatuh di mulut, benar-benar menantang sang liur yang keluar dari mulut, jadinya balik masuk lagi…cuihh..asemm. Akhirnya mebuktikan tantangan dengan naik ke atas genteng, cat lapis anti bocor sana-sini, sepertinya beres. Ujian datang ketika hujan deras mengguyur. Kebocoran di titik-titik terparah sudah tidak muncul lagi, hanya tersisa rembesan kecil di beberapa titik. Hal ini memang membuktikan bahwa ketika seorang pemimpin yang langsung turun tangan belum tentu bisa langsung membereskan segalanya dalam sekejap, semua ada prosesnya dan tentunya butuh evaluasi atas kinerjanya sehingga menjadi catatan penting untuk perbaikan selanjutnya, setuju? harus itu. Atau malah bisa jadi memunculkan sebuah problem baru atau mungkin baru muncul ketika sebuah masalah yang lain teratasi, seperti yang terjadi selanjutnya. Efek kebocoran yang mengakibatkan tetesan dan rembesan sana-sini mirip bocornya dana anggaran, membawa efek samping lain yaitu terjadinya pemadaman listrik lokal. Kalau hal itu dilakukan oleh tukang listrik negara dengan mematkan gardu induk karena banjir mungkin hanya bisa pasrah, lha ini benar-benar lokal, hanya di rumah saja. Sepertinya sang air melakukan sabotase merembes ke saluran listrik. Betul dan bukan karena kebetulan listrik di rumah saya pecah menjadi 4 titik MCB dan ketika di cek satu-satu ketahuan ada satu saluran penyebab listrik drop. Dan bukan kebetulan juga saluran yang problem menjangkau kamar depan, kamar utama dan kamar mandi, juga colokan televisi dan kulkas di ruang keluarga. Karena kejadian malam, terpaksa satu saluran itu dimatikan sementara.

Saluran yang mati cukup vital, meski tidak sebesar alat vital saya, jauh lebih besar maksudnya. Coba bayangin tidur di kamar tanpa AC, untungnya di luar hujan jadi lumayan dingin meski tanpa AC, beberapa lembar pakaian ditanggalkan buat kompensasi. Yang sedih adalah anak-anak, saluran TV ikut mati. Tapi sebagai seorang pemimpin keluarga saya langsung sigap ambil kabel rol buat nyolok saluran listrik yang lain. Anak-anak tetap ceria jadinya. Satu lagi yang ikutan di saluran ini adalah kulkas. Betapa keringnya tenggorokan tanpa dinginnya air kulkas membasahi krongkongan. Untungnya dispenser masuk saluran lain, jadi tetep hidup bisa buat manasin air, kopi susu hangat tetap tersedia, panas dingin. Ooh..iya, di saluran juga terpasang pompa air dan mesin cuci. Duh, alamat bau asem ni terancam nggak mandi kehabisan air. Sebagai alternatif pakai air produksi tukang air minum negara yang kecoklatan, itung-itung mandi susu lah, meskipun sebenarnya saya lebih suka susu yang putih, mungkin karena rajin pakai lotion pemutih. Tapi syukurlah hari ini libur, jadi bisa irit air tidak perlu harus mandi..uppss..tapi baru ingat ternyata harus wajib mandi…ehh..maksudnya mandi wajib, gara-gara tanpa AC jadi harus menanggalkan beberapa lembar pakaian tadi dan memicu terjadinya hal-hal yang tidak etis untuk diceritakan di sini, meskipun tentunya ceritanya cukup erotis. Mesin cuci mati juga bisa memicu mandi wajib berikutnya, tidak bisa cuci pakaian, bisa-bisa terpaksa polosan lagi, mandi wajib lagi deh..

Pagi hari masih malas-malasan buat cek masalahnya. Hal ini biasa terjadi dengan seorang pemimpin, tidak turun tangan langsung ketika masih di awal-awal. Ketika kondisi genting baru deh turun tangan sampai ke kaki, terus naik lagi ke pinggang, begitu berulang-ulang. Emang senam SKJ? Begitu mentari semakin tinggi, dicoba trial error untuk menyalakan lagi saluran yang semalam bermasalah. Dan…jreng…jreng…hidup sodara-sodara…! Ternyata tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa dari seorang pemimpin, masalah selesai dengan sendirinya. Hal ini seringkali terjadi di kehidupan kita, masalah bisa secara alamiah selesai tanpa kita sadari.

Siang hari setelah menghabiskan hidangan santap siang, karena cukup capek pagi sampai siang memantau kondisi perkembangan listrik di rumah, akhirnya terlelap tidur. Seorang pemimpin seringkali bukan capek fisik tapi pikiran, mohon dipahami. Terbangun ketika hujan deras mengguyur di sore hari. Bukan karena pengen nengok daun dan ranting, pohon dan kebun apakah basah semua, tapi karena listrik di rumah yang kumat mati lagi. Pelajaran berikutnya yang saya dapat adalah bahwa problem bisa saja muncul lagi apabila kita tidak tuntas menyelesaikan sampai akar masalahnya. Masalah tadi terlihat sudah beres ketika mentari bersinar karena air kering, tapi ternyata muncul lagi begitu hujan mulai mengguyur. Sebuah problem berulang yang kerap kali muncul juga di kehidupan kita karena kita hanya menyelesaikan di permukaan saja.

Kembali jiwa kepemimpinan saya terpanggil untuk segera menuntaskan masalah ini, apalagi sebentar lagi malam menjelang, kondisi menjadi semakin genting dan mendesak untuk diselesaikan, apalagi besok masuk kerja. Belum pernah tercatat dalam kamus saya berangkat kerja tidak mandi, catatannya kalau pun pernah tidak mandi pasti tidak saya catat. Sebagai seorang penyandang gelar insinyur tukang listrik, saya merasa tepat sebagai ahlinya untuk urusan satu ini. Berbekal senter, tespen, gunting dan isolasi, akhirnya ambil tangga dan mulai naik ke atas plafon. Cek terminal satu-satu yang potensi terkena rembesan bocor dari genteng dan akhirnya dengan merunut satu titik demi titik dengan cermat dan sistematis, tidak menebak-nebak tapi yakin dan pasti ketemulah titik penyebab short circuit. Action langsung dilakukan untuk perbaikan ketika terdengar suara azan Maghrib berkumandang. Sedikit tanggung penyelesaiannya dan akhirnya proses finishing dilakukan segera dengan sedikit ceroboh. Injakan kaki di plafon pada posisi yang kurang kuat…dan..gubrakk…sukses menjebol plafon dan jatuh mendarat darurat bersama potongan kayu dan plafon. Untungnya problem terjadi pada terminal tepat di atas kamar utama jadi mendarat darurat dengan lembut di atas kasur. Benar-benar gerakan slow motion, ketika kaki kanan pertama kali menjebol plafon jatuh, tangan berusaha menggapai sisi kanan kiri dan kaki kiri masih nyangkut di atas. Sungguh sangat dramatis apabila prosesi jatuhnya saya sebagai seorang pemimpin tadi diabadikan oleh kamera dan muncul di berbagai media dengan tag line “Jatuhnya Seorang Pemimpin dari Atas Plafon”, keren kan..?

Pelajaran tambahan yang bisa diambil hikmahnya adalah meski kita ahli dalam sebuah bidang, ada kalanya proses penyelesaian tidak bisa berjalan mulus, sebuah kesalahan kecil bisa berakibat fatal terhadap seluruh aktivitas yang sudah kita lakukan. Dan satu hal lagi, ketika memulai sesuatu harus selalu diawali dengan doa, karena sejago apa pun kita, seahli apa pun seorang pemimpin, Tuhan adalah Sang Maha Kuasa. Jangan mengabaikan panggilan-Nya meski dengan seribu alasan yang telah diuji oleh para staff ahli kita.

Meski menyisakan lobang besar di plafon kamar, pegel-pegel di badan dan luka-luka kecil di kaki dan tangan, hari ini saya dapat banyak pelajaran berharga mulai dari anugerah hujan yang tercurah dari langit sampai jatuhnya seorang pemimpin. Urusan perbaikan plafon besok serahkan ke ahlinya, panggil tukang termasuk tukang urut *nyengir.

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Tutup Tahun, Tutup Usia, Buka Lembaran Baru

Tuesday, December 31, 2013

1388496591996770881
Taun Baru (Doc: Dunia Aretha)

Alergi dengan ramainya semarak menyambut malam pergantian tahun? Kalau Anda merupakan salah satu orang yang merasa terganggu dan berpikir bahwa hal itu tidak ada gunanya, tentu banyak yang mengalami dan pasti banyak orang yang setuju dengan pendapat Anda.

Tepat 4 tahun yang lalu, malam pergantian tahun menjadi sebuah catatan peristiwa penting dalam hidup saya. Menyambut libur akhir tahun saat bahagia ketika lahir anak kami yang ke-2 beberapa hari sebelum masuk di penghujung bulan Desember dan saat itu kami sedang mempersiapkan acara potong kambing untuk akikah si kecil. Tapi tepat di tanggal 31, telpon yang berdering kurang lebih jam 1 siang membuat suasana berubah 180 derajat. Suara Kakak tertua saya di seberang sana terdengar parau memberi kabar yang sesaat langsung membuat tenggorokan tercekat. Innalilahi wa inna ilaihi raji’un..kabar yang sungguh menyesakkan dada, Ayahanda tercinta telah berpulang dipanggil menghadap Sang Maha Pencipta.
Kabar yang sangat mengejutkan karena meski memang sudah berusia tua (tutup usia di umur 72 tahun), kondisi Bapak dalam keadaan sehat, tidak ada kabar sakit sebelumnya. Bapak meninggal terjatuh sesaat setelah mengambil air wudhu untuk sholat dhuhur. Ibu yang telah menunggu di ruang sholat tidak pernah terpikirkan bahwa penantiannya tidak bakal bisa terwujud, waktu menunggunya untuk sholat dhuhur berjamaah dengan suami tercinta ternyata tidak bisa terlaksana saat itu dan untuk selanjutnya, karena takdir maut telah memisahkan. Semoga Ayahanda tercinta menjadi khusnul khotimah dan diterima amal ibadahnya di sisi-Nya. Aamiin.

Jarak yang memisahkan dengan kampung halaman membuat saya memutuskan segera bergegas siap-siap pulang kampung. Karena melihat kondisi, akhirnya diputuskan saya berangkat sendiri. Dengan mengucap Basmallah, kaki menginjak pedal gas meluncur menuju rumah Kakak yang masih di Jakarta untuk berangkat bersama. Sepanjang jalan kami lebih banyak diam membisu, hanya sesekali obrolan, selebihnya penuh dengan kecamuk pikiran di kepala kami masing-masing.
Maghrib menjelang ketika kita keluar Tol Cikampek dan mulai memasuki jalur Pantura. Suasana malam mulai terlihat dengan lampu terang di sepanjang jalan.
Jalanan sesekali tersendat dan terlihat di sepanjang jalur Pantura terlihat lebih berwarna-warni. Saya baru tersadar ketika malam mulai menjelang, keramaian di jalan bertambah dan tentu saja perjalanan juga tersendat. Ternyata malam ini adalah malam pergantian tahun dan di sepanjang jalan ramai sekali orang berlalu lalang dan di beberapa titik tampak diwarnai dengan panggung pertunjukan. Suara terompet yang saling bersautan diiringi bunyi petasan yang menggelegar dan warna warni kembang api bertaburan di malam itu. Sungguh sebuah suasana yang jauh berbeda dengan kondisi yang sunyi di hati kami karena ditinggal oleh Ayahanda tercinta.

Dengan bergantian pegang stir meski tidak bisa benar-benar memejamkan mata sepanjang perjalanan, akhirnya menjelang Subuh kami tiba di kampung halaman, rumah tercinta sekaligus rumah duka saat itu. Tidak kuasa air mata meleleh ketika memandang wajah Ayahanda yang damai dan mencium keningnya untuk terakhir kalinya, meski saya cukup ikhlas dengan kepergian Ayahanda tercinta. Jam 9 pagi kami mengantarkan jenazah untuk dikebumikan. Doa kami selalu menyertaimu Ayah…

Malam hari setelah pengajian dan doa bersama, suasana mulai sepi. Beberapa orang kerabat dan tetangga dekat masih berkumpul sambil ngobrol di teras rumah. Suara terompet dan petasan sesekali masih terdengar sisa dari keramaian malam tahun baru kemarin. Saya tiduran di kursi panjang ruang tamu sambil termenung. Di kursi panjang ini Bapak sering menghabiskan malam ketika kami sekeluarga dan kakak-kakak yang lain pulang kampung, minimal satu tahun sekali saat lebaran tiba atau ketika ada libur panjang. Alasan Bapak cukup sederhana, beliau sengaja tiduran di kursi panjang tersebut dengan gordyn jendela sedikit terbuka untuk bisa mengawasi mobil kami yang diparkir di depan rumah yang kebetulan pinggir jalan utama kampung. Berkali-kali kami bilang, “kan aman di rumah sendiri”. Tapi bukan itu yang Bapak risaukan, beliau khawatir kalau ada orang yang terganggu dengan mobil yang diparkir di pinggir jalan tersebut karena pasti akan memakan badan jalan dan bisa jadi mengganggu kendaraan lain yang lewat.

Memang sudah seringkali Bapak berencana membuat tambahan garasi di rumah karena saat itu hanya muat satu mobil di rumah dan bahkan rencana tambah garasi itu saat saya masih di bangku sekolah, jadi saat itu Bapak sudah punya impian bahwa anak-anaknya kalau kerja jauh nanti ketika pulang menengok kampung halaman sudah disiapkan tempat. Setelah akhirnya saat saya dan Kakak di atas saya ternyata benar-benar hidup di luar kota (saudara yang lain di seputaran kota tempat lahir), kami pun berkali-kali masih juga mematahkan rencana tersebut dengan dalih bahwa hanya sesekali kita pulang kampung jadi toh sementara parkir di pinggir jalan juga tidak apa-apa. Akhirnya dua tahun yang lalu, Ibunda tercinta merealisasikan rencana Bapak yang masih tertunda itu. Sebuah bangunan baru yang bisa menampung mobil-mobil kami saat liburan pulang kampung berdiri di samping mushola kecil samping rumah, tempat Ibu menunggu Bapak untuk sholat dhuhur berjamaah 4 tahun yang lalu.

Kami mengagumi sosok Bapak yang keras dan konservatif tapi punya prinsip. Beliau merupakan sosok pekerja keras dan berdedikasi tinggi untuk keluarga. Sehabis pulang kerja, hobby Bapak yang masih dilakukan setelah masa pensiun adalah “jalan-jalan” nengokin sawah dan tegalan sambil memanggul cangkul di pundak, persis sosok petani di buku pelajaran SD. Pulangnya bawa tentengan buah pisang, ubi atau ikan gabus, belut dan lainnya. Kami merupakan keluarga besar dan saya adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Masih jelas membekas dalam ingatan saat saya dihukum ketika mulai mengenal nikmatnya rokok di usia belia, meski sampai akhir hayatnya Bapak adalah seorang perokok aktif. Masih teringat di kepala saat masa kecil dulu ikut menguping diskusi berat Bapak dan Ibu ketika 4 orang kakak tertua tiba waktunya bayar uang kuliah. Sebagai pasangan pegawai negeri saat itu tentunya secara ekonomi cukup terbatas. Tapi Bapak punya keinginan bahwa semua anaknya harus lulus sarjana, urusan yang lain pasti ada jalannya. Dan Alhamdulillah, sebelum akhir hayatnya Bapak terlaksana melihat semua anaknya menyandang gelar sarjana.

Dan hari ini ketika mentari sudah kembali ke peraduannya, malam pergantian tahun sudah menanti. Mulai terdengar suara terompet dan petasan di luar sana yang kembali mengingatkan memori 4 tahun silam. Berita berbagai perayaan menyambut tahun baru ramai mengisi layar televisi. Cuaca bulan Desember dengan hujannya tidak meyurutkan rencana pagelaran yang meriah menyambut pergantian tahun. Kalau banyak yang berpendapat perayaan tahun baru tidak ada gunanya, saya bukan salah satu di antaranya. Bukannya saya setuju 100% terhadap hal hura-hura yang dilakukan, tapi lebih ke arah memaknai malam pergantian tahun dengan lebih spesial dari tanggal sebelumnya. Secara psikologis, menjadikan sesuatu menjadi hal yang spesial akan menumbuhkan sebuah motivasi baru. Bagaimana manifestasinya? Bagi sebagian orang petasan, kembang api, terompet merupakan salah satu manifestasi dari curahan rasa spesial itu.

Bagi saya malam pergantian tahun merupakan momen yang istimewa. Saat dimana saya mendapatkan pelajaran tentang makna kehidupan dari sosok Ayah tercinta yang tutup usia di akhir tutup tahun dan munculnya sosok kecil baru sebagai pembuka lembaran baru di kehidupan kami. Semoga saya bisa menjadi seorang kepala keluarga yang lebih baik lagi bagi istri dan anak-anak seperti saya mengagumi sosok Ayahanda tqercinta.


Catatan kecil :
Malam ini keluarga besar datang dari kampung halaman, terompet dan kembang api sudah di tangan krucil menyambut kedatangan mereka. Jagung bakar dan ikan bakar siap meramaikan suasana. Kebersamaan dan keramaian canda tawa ceria anak-anak di rumah mungil kami. Tidak lupa doa teriring buat Ayahanda kami tercinta.

Salam Gowes,

It's All About Bicycle

Sebaiknya Kita Sepakat untuk Tidak Sepakat

Friday, December 27, 2013

1388161268906239086
Beda Pendapat (pic: erepublik.com)

Menurut pendapat saya, sebaiknya kita berbeda pendapat dengan orang lain tentang sesuatu hal. Sengaja saya mengawali kalimat pembuka dengan kalimat “menurut pendapat saya” karena memang sebaiknya pendapat Anda berbeda dengan pendapat saya, sesuai dengan pendapat saya tersebut. Jadi bingung? Jangan bingung karena Anda sebaiknya berbeda pendapat dengan saya :)

Biar lebih mudah memahami pendapat saya, coba saya jelaskan mengenai pendapat saya bahwa sebaiknya kita berbeda pendapat.

Seperti tertuang dalam pasal 28 UUD 45 yang berbunyi “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”, jadi memang kebebasan untuk berpendapat itu merupakan hak setiap orang sehingga perbedaan pendapat juga merupakan hak masing-masing individu. Bahkan saya berpendapat bahwa sebaiknya kita berbeda pendapat dengan orang lain. Kenapa bisa begitu?

Berbeda pendapat jangan selalu dikonotasikan sebagai hal yang negatif, karena justru dengan perbedaan pendapat akan menjadikan sebuah ajang diskusi yang membangun. Apa jadinya jika ada satu orang berpendapat kemudian orang lain juga berpendapat sama? Tentu akan selesai begitu saja pembicaraan tanpa ada diskusi lanjutan tentang pendapat masing-masing. Apakah ketika setuju dengan pendapat orang lain itu bagus atau malah jelek? Bisa kita lihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Jika kita setuju dengan pendapat orang lain artinya tidak ada masukan untuk menguji kebenaran atau efektifitas dari pendapat orang tersebut. Jika ternyata akhirnya terbukti pendapat orang tersebut memang benar, tentu itu yang diharapkan. Akan tetapi apabila ternyata pendapat yang diyakini dan di-amin-i bersama tadi kurang tepat, kita baru akan tahu ketidakakuratan pendapat tersebut setelah terjadi. Lain cerita ketika terjadi perbedaan pendapat terhadap pendapat pertama. Pasti akan terjadi sebuah diskusi dan interaksi secara verbal antar orang yang bersangkutan sehingga memunculkan berbagai macam faktor plus dan minus dari masing-masing pendapat. Jika diskusi mengenai perbedaan pendapat ini dikelola dengan baik tentu saja akan bisa menangkap kondisi yang mungkin akan terjadi ketika kita setuju atau tidak setuju dengan pendapat pertama, sehingga bisa memunculkan sebuah aktivitas sebagai contingency plan atas efek dari setiap pendapat baik yang pro maupun kontra.

Saya seringkali memposisikan diri sebagai oposan dalam sebuah diskusi dengan tujuan melihat dari sudut pandang yang lain sehingga bisa jadi bahan diskusi dan koreksi serta masukan dan juga pertimbangan menuju goal yang akan dicapai. Perbedaan pendapat bukan berarti menentang terhadap pendapat orang lain, tapi lebih ke arah memberikan perspektif lain dari cara berpikir sang pemberi pendapat pertama sehingga menjadikan sebuah bahan pertimbangan atau pun menambah parameter baru terhadap pendapat sebelumnya. Jadi apabila Anda mempunyai pendapat yang sama dengan orang lain, sebaiknya cobalah untuk “berbeda pendapat” dengan memberikan tambahan masukan yang melengkapi pendapat pertama sehingga bukan hanya “sama pendapatnya”.

Ketika kita menyampaikan sebuah pendapat dan orang lain ternyata sependapat, belum tentu pendapat yang kita sampaikan tadi benar. Bisa jadi orang yang “sependapat” tadi sebenarnya karena tidak punya ide lain terhadap pendapat kita sehingga mengiyakan saja. Akan lebih membangun ketika muncul berbagai pandangan dan pendapat yang berbeda sehingga terjadi sebuah diskusi dan interaksi untuk memaparkan lebih dalam pendapat masing-masing sehingga akan saling menguji dan memberikan masukan terhadap celah-celah yang mungkin bolong dari masing-masing pendapat sehingga bisa saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan dan bahkan sepasang bayi kembar identik yang dilahirkan bersamaan pun pasti mempunyai perbedaan dari pasangan kembarnya. Setiap orang mempunyai kode unik yang tertanam seperti sebuah serial number yang membedakan satu dengan yang lain. Hal itu pasti bukan tanpa tujuan, karena Tuhan Yang Maha Kuasa pasti lah akan dengan sangat mudah jika ingin menciptakan dua orang sosok yang sama persis identik tanpa satu pun perbedaan. Tapi ternyata kita diciptakan untuk berbeda satu dengan yang lainnya. Salah satu tujuannya bisa jadi adalah untuk saling melengkapi sehingga menjadikan sebuah sinergi dari setiap perbedaan yang ada.

Jadi hargailah perbedaan pendapat dari orang-orang yang berbeda karena itu merupakan sebuah hal positif yang akan membuat sebuah sinergi untuk mencapai tujuan bersama dan saling melakukan koreksi terhadap setiap penyimpangan yang mungkin terjadi. Itu menurut pendapat saya, bagaimana dengan pendapat Anda? Sebaiknya berbeda lho ya..? Sepakat untuk tidak sepakat? :)

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Ulang Tahun Maya - Happy Birthday to Me

Saturday, November 16, 2013



13846195241841179466
Hepi B'day (pic: screen shot)

Pernah merasakan yang namanya ulang tahun? Kalau belum berarti Anda belum cukup umur untuk membaca kisah ini. Segera cuci tangan cuci kaki dan jangan lupa baca do’a ya.? Aamiin..

Dan hari ini kebetulan saya merasakan yang namanya ulang tahun. Kenapa kebetulan? karena memang benar-benar betul menurut catatan sipil saya terlahir pada tanggal yang sama dengan hari ini sekian tahun yang lalu. Jadi bukan sebuah kebohongan publik mengenai kelahiran saya, jadi tidak perlu cari alibi maupun saksi yang menguatkan. Masih menurut catatan juga saya terlahir di hari Jum’at Kliwon sesuai pasaran Jawa. Hari yang menurut orang seram, padahal kebalikannya saya diciptakan jauh dari kata seram, karena sampai detik ini di usia yang sudah cukup matang dan bisa jadi gosong kalau tidak segera dibalik *emang tempe goreng, belum pernah sekali pun ada anak kecil yang menjerit ketakutan melihat wajah saya. Kadang-kadang ada juga sih cewek-cewek abege yang menjerit histeris melihat tampang kiyut unyu-unyu saya ini, maklum lahir Jum’at Kliwon *apa hubungannya coba? #gagal paham. Sebenarnya nggak penting saya lahir Jum’at Kliwon atau Rebo Legi, karena kapan pun lahirnya minumnya tetap air susu ibu *4 sehat 5 sempurna #gagal paham stadium 2.

Sedikit flash back ke masa kecil dahulu, saat masa anak-anak yang begitu lucunya sampai masa remaja yang sedemikian cerianya *copas profile K, sudah menjadi tradisi di dalam keluarga saya untuk tidak menjejali memori dalam rangka mengingat hari ulang tahun masing-masing saudara. Maklum kami keluarga cukup besar dengan 7 bersaudara sehingga bagi Bapak Ibu kami, jangankan mengingat tanggal lahir anaknya, memanggil nama anaknya saja kadang sering tertukar-tukar dengan nama anak tetangga *loh. Jadi seringkali bahkan saya sendiri melewatkan hari ulang tahun tanpa ucapan selamat dari saudara bahkan tidak menyadari kalau sedang ulang tahun. Nah, baru pada masa SMA dulu, ritual ulang tahun tidak boleh terlupa. Ada dua catatan kenapa tidak boleh lupa. Yang pertama harus siap-siap ngumpulin sisa uang saku buat nraktir teman-teman di kantin atau mie ayam gerobak dorong depan sekolah. Yang kedua harus nyiapin baju ganti karena lemparan telor busuk atau digotong ramai-ramai masuk comberan depan sekolah *nasib.

Begitu beranjak makan bangku kuliah *maklum anak kost kalo’ laper bangku juga diembat, hilang lagi tu kebiasaan mengingat kapan ulang tahun. Masih lebih hapal nomor induk mahasiswa, TK/22082, karena musti jeli ngelihat papan pengumuman hasil ujian. Ingatan tentang hari ulang tahun muncul lagi ketika berada di masa semester tua *meski tampang masih muda sampai usia setua saat ini. Berawal ketika mulai mengenal dunia maya, internet di masa-masa awal booming di tahun millenium. Punya akun email yang mengharuskan memasukkan data pribadi termasuk tanggal lahir membuat ingatan pulih kembali tentang kapan terlahir ke dunia ini. Berlanjut ketika menulis email gombalan ke seorang cewek, “ehh, tanggal segini gw ulang tahun, loh..” yang mendapat respons dari sang cewek “trus…maksudnya..?” *tutup muka. Tapi ternyata pas di hari H, pagi-pagi Ibu Kost teriak-teriak manggil ada yang telpon. Dan ternyata suara seorang gadis lucu terdengar di seberang, ngucapin selamat ulang tahun. Wah…bener-bener ucapan pertama dari seorang gadis setelah sekian lama melupakan tanggalan. Singkat cerita sang gadis akhirnya berhasil melahirkan duo krucil yang tadi siang bersautan menyanyikan lagu..Heppy B’day..Papa, trus berebut tiup lilin lanjut belepotan makan kue tart *senyum bahagia. Yup, memang di keluarga istri masalah tanggal lahir ulang tahun masing-masing tercatat baik di kepala masing-masing dan pasti saling mengucapkan selamat entah ketemu langsung atau lewat pesan.

Hari ini atau tepatnya tadi malam dini hari mungkin jam 00:00 sebuah bisikan lembut terdengar di telinga mengucapkan selamat ulang tahun, entah tepatnya jam berapa karena sudah terlelap tidur menunggu datangnya sang gadis yang sedang tugas bela negara sampai malam menjelang. Setiap tahun sang gadis selalu berlomba menjadi yang nomor satu ngucapin selamat ulang tahun. Sebagai bukti otentik, bahkan ucapan lewat sms atau email juga dilakukan *cium pipi sambil pegang henpon. Pagi harinya ketika cek gadget, sudah muncul berderet notifikasi ucapan selamat ulang tahun. Wah, hebat juga ya teman-teman mengingatku *jadi terharu.
Dan coba tebak siapa yang pertama memberi ucapan selamat? Menurut catatantime stamp notifikasi email adalah ucapan dari sang gadis dan….karir.com *nyengir.

Hidup di jaman cyber ini memang susah untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang maya. Notifikasi robot akan sangat konsisten dan tepat waktu mengingat hari jadi setiap orang yang ada di database-nya. Bahkan begitu buka browser, mBah Gugel pun langsung tahu dan memberikan ucapan selamat ualng tahun *bravo. Dan setelah merenung sejenak hari ini, ternyata mencapai angka 96,69% ucapan yang berasal dari dunia maya karena ucapan nyata hanya muncul dari keluarga kecil di rumah ini saja. Beragam ucapan maya muncul dari berbagai bentuk jejaring sosial. Notifikasi dari sistem mengingatkan ke teman-teman tentang adanya yang berulang tahun di hari ini. Group chat platform BB maupun robot ijo bersautan memberikan komentar. Copas dengan berbagai tambahan menjadi ritual ucapan teman-teman pemalas yang hemat energi. Meski copas masih lebih terhormat daripada yang melewatkan ucapan, malu copas tapi males nulis, apalagi ngasih kado, mustahil..karena kado hanya bisa didapat saat ulang tahun usia paling tinggi SD, atau kado dari sang pacar. Setelah usia cukup matang hampir gosong yang ada adalah saatnya ngecek dompet buat traktiran *melas tanggal tuwa.

Jadi bagi saya tidak lah penting ucapan selamat ulang tahun baik di dunia nyata maupun dunia maya. Yang terpenting adalah setiap hari merupakan waktu yang nyata untuk selalu bersyukur atas karunia kenikmatan hidup di dunia ini dari Sang Maha Pencipta. Diberikan anugerah keluarga yang bahagia, teman-teman nyata dan maya yang sudah berinteraksi selama ini. Terima kasih buat  yang telah mengucapkan selamat di dunia maya, bagi yang tidak ngucapin mungkin Anda masih gagap teknologi sehingga bisa jadi gagal paham bagaimana cara ngucapin selamat lewat dunia maya *dimaapken.

Make a wish klise saat lilin ditiup duo krucil tadi “semoga hari ini dan selanjutnya lebih baik dari hari-hari kemarin”. Tanpa ucapan selamat baik nyata maupun maya, tanpa tiup lilin dan potong kue sekali pun saya yakin dan percaya dengan perhatian dan kasih sayang dari bapak, ibu, adik, kakak, teman-teman dan sodara-sodara sebangsa dan setanah air semua. Seperti keyakinan akan perhatian kasih sayang dari keluarga besar saya yang sampai detik ini belum ada satu pun yang ngucapin selamat bahkan sadar bahwa anak paling bungsu ini hari ini ulang tahun, hepi b’day to me deh.. *nyengir prihatin.

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Media Provokatif: Ahok Cs Jadi Tersangka Judi Online

Wednesday, November 13, 2013



13843534971068602187
Judi (pic: news.liputan6.com)

Rasa penasaran langsung muncul ketika membaca judul berita dari sebuah media seperti di atas “Ahok Cs Jadi Tersangka Judi Online di Batam, Ini Modusnya“. Rasa penasaran memaksa untuk buka link dan membaca isi beritanya. Isinya memang benar sebuah berita mengenai penangkapan tersangka judi online yang punya nama alias Ahok. Jadi memang benar adanya judul berita tersebut di atas. Tapi Anda dan juga pembaca berita yang lain pasti akan merasa tertipu setelah membaca isi berita yang ternyata berbeda dengan pemicu rasa penasaran sebelumnya. Persepsi ketika mendengar nama “Ahok” pasti langsung tertuju ke sosok wakil gubernur DKI yang mendampingi Jokowi.

Memang judul dari berita tersebut cukup provokatif untuk mengundang pembaca penasaran dan tertarik untuk membaca berita lebih lanjut. Apa kira-kira yang akan terjadi jika judul di atas misalnya diganti dengan “Bambang Cs Jadi Tersangka Judi Online di Batam, Ini Modusnya“. Kira-kira bisa ditebak lebih banyak mana orang yang penasaran dan membaca berita tersebut? Padahal nama “Bambang” sebenarnya jauh lebih tinggi jabatannya dari pada “Ahok“. Sadarkah Anda bahwa Presiden kita bernama “Bambang“? Susilo Bambang Yudhoyono lebih lengkapnya. Tapi kita lebih familiar dengan menyebut Presiden kita dengan inisial SBY. Jadi pasti akan lebih provokatif lagi jika judul di atas kita rubah menjadi “SBY Cs Jadi Tersangka Judi Online di Batam, Ini Modusnya“. Padahal bisa jadi “SBY” merupakan singkatan dari Santi Binti Yanto.

Meski tidak ada yang salah atas judul berita dan hubungan dengan isi beritanya, tapi pasti pembaca akan merasa dibohongi dan itu sebenarnya lebih ke arah dibohongi terhadap persepsi awal sebelum membaca isi berita. Memang judul yang provokatif merupakan salah satu daya tarik dari sebuah tulisan. Bisa jadi sebuah tulisan dengan konten yang bagus akan sedikit pembacanya karena judul terlalu “biasa” sehingga jangankan untuk membaca tulisan, untuk klik link saja mungkin akan terlewatkan.

Kunci lain dari pemilihan sebuah judul yang mengundang adalah dengan sesuatu yang sedang trend, bisa mainstream atau bahkan anti mainstream. Bisa dibandingkan dua contoh judul di atas antara “Ahok” dan “Bambang“. Sangat jelas terlihat bahwa “Ahok” lebih nge-trend dibandingkan “Bambang“. Dan hal ini sangat dipengaruhi oleh waktu, dalam artian kondisi yang sedang in di suatu komunitas. Bisa jadi judul “Ahok” akan menjadi biasa jika diberitakan 5-10 tahun yang lalu, ketika nama “Ahok” adalah nama “biasa” dari warga keturunan seperti nama “Bambang” yang merupakan nama “pasaran” orang Jawa.

Ada satu pertanyaan yang menggelitik mengenai judul media yang cukup provokatif dan “menipu” tadi. Apakah bisa dikategorikan sebagai pembohongan publik kah berita tersebut? Pembohongan terhadap persepsi awal pembaca mungkin iya, tapi terhadap konten berita sepertinya masih sesuai dan memang menjelaskan dari isi berita yang sesungguhnya. Apakah Ahok, sang wagub DKI atau Ahok-Ahok yang lain bisa meuntut media karena merasa dicemarkan nama baiknya dengan judul pemberitaan tersebut? Kalau kebetulan nama sang tukang judi tersebut “Jokowi“, saya yakin dengan selera humor Jokowi yang cukup tinggi akan menanggapinya dengan senyum khasnya. Tapi entah bagaimana reaksi Ahok yang cukup keras dan temperamental. Atau reaksi SBY yang bisa jadi menunduk dan menyatakan keprihatinannya. Bagaimana menurut Anda?

Salam Gowes,
It's All About Bicycle

Nepotisme Merupakan Cikal Bakal Nasionalisme

Tuesday, November 12, 2013

13842672711299857123
Nepotisme (berita2bahasa.com)

Mendengar kata Nasionalisme seringkali kita langsung tergugah dan menghubungkan dengan hal-hal yang heroik dan semangat kepahlawanan. Konotasi positif langsung tersirat dan membuat hati berdebar, semangat berkobar.

Bagaimana dengan kata Nepotisme? Aura negatif langsung menyeruak masuk ke telinga. Ungkapan sinis dan sadis bisa terlontar dengan manisnya. Padahal seperti judul di atas, kalau kita telaah lebih dalam, semangat Nasionalisme itu sebenarnya merupakan manisfestasi lebih luas dari sebuah Nepotisme. Bagaimana bisa begitu?

Coba kita lihat kasus terakhir mengenai issue penyadapan oleh AS yang disusul dengan reaksi para hacker tanah air yang menamakan diri Anonymous Indonesia. Dengan mengatasnamakan jiwa dan semangat nasionalisme, para hacker tanah air ini melakukan serangan di dunia maya terhadap situs .au yang notabene merupakan situs kode negara tetangga. Jadi secara tidak langsung mengarah ke serangan dunia maya terhadap negara AU. Apakah bisa kita sebut hal ini sebagai semangat nasionalisme? Yup..semangat yang tertanam di dalamnya adalah nasionalisme, membela kehormatan bangsa.

Contoh lain misalnya saat perjuangan para pejuang kita di masa-masa penjajahan Belanda maupun Jepang. Semangat nasionalisme tentunya menjadi latar belakang untuk membela ibu pertiwi, melawan penjajah sampai dengan titik darah penghabisan. Lalu bagaimana hubungan dengan Nepotisme?

Semangat Nasionalisme yang kita bisa artikan sebagai semangat membela tanah air merupakan gambaran pembelaan terhadap golongan, kelompok maupun saudara, yaitu saudara sebangsa dan setanah air tentu saja. Kalau kita persempit lagi, misalnya ketika pertandingan sepakbola antara Indonesia melawan negara lain, kira-kira kita mendukung siapa? Semangat nasionalisme bilang..Garuda di Dadaku…Indonesia tumpah darahku. Bagaimana dengan pertandingan kesebelasan antar daerah di Indonesia? Bisa lihat bagaimana aksi Bonek yang begitu heroik, mati-matian membela kesebelasan yang mereka dukung? Itulah semangat nasionalisme yang lebih sempit, daerah-isme. Turun lagi ke pertandingan antar kampung, pertandingan 17-an antar RT/RW, siapa kira-kira yang kita dukung? Tentu saja kampung kita, RT/RW kita, tetangga kita, saudara dekat kita. Ketika saudara atau anak kita mengikuti sebuah perlombaan, apakah kita akan mendukung para pesaingnya? Jadi tidak ada yang salah dan sangat manusiawi ketika kita mendukung dan mengutamakan orang-orang yang lebih dekat dengan kita, itulah cerminan semangat nasionalisme.

Sejarah mencatat Cuk Nyak Dien sebagai pejuang dan pahlawan yang berjasa dalam masa penjajahan Belanda. Siapa saja orang yang ikut serta bahu membahu melawan penjajah bersama wanita hebat itu? Teuku Umar yang merupakan suaminya merupakan partner Nepotisme dari Cut Nyak Dien dalam melawan penjajah Belanda. Nepotisme dalam konotasi positif ketika kita mengajak, mendukung, mengutamakan saudara, kerabat atau teman dekat untuk bersama menuju kebaikan.

Aktor Nicholas Cage meraih kesuksesan di kancah perfilm hollywood dengan semangat Nepotisme. Francis Ford Coppola, yang merupakan sutradara kondang adalah pamannya. Ketertarikan Cage di dunia film sedikit banyak terinspirasi dari sang paman, meskipun dengan sengaja mengganti nama keluarga Coppola dengan Cage untuk menghapus bayang-bayang nama besar sang Paman. Dan ternyata dia bisa membuktikan menjadi aktor papan atas Hollywood.

Jadi sama sekali bukan aib, bukan hal yang tabu ketika seseorang dari keluarga sukses ikut menjadi orang besar dan sukses pula. Dukungan keluarga tentunya merupakan modal besar untuk meraih kesuksesan tersebut. Bahkan mulailah dengan jalinan nepotisme, membangun semangat persaudaraan, kekeluargaan untuk bisa mewujudkan tujuan dan kesuksesan bersama. Tentunya kita masih ingat dengan semboyan dan semangat bangsa Indonesia yang selalu mengusung semangat kekeluargaan dan gotong royong. Jadi tebarkan aura positif Nepotisme lebih luas lagi. Karena bisa jadi itulah cikal bakal semangat Universe-isme manakala terjadi perang bintang melawan alien seperti kisah film futuristik ala Hollywood.
Nepotisme sesama umat manusia melawan makhluk planet lain. Keren kan..? *nyengir

Salam Gowes,
It's All About Bicycle
 
Back to Top