Bicycle4you ~ It's All About Bicycle | Members area : Register | Sign in

Antara Tarawih Kilat dan Ejakulasi Dini

Monday, June 29, 2015

Antara Tarawih Kilat dan Ejakulasi Dini
Tarawih Kilat (source: sharia.co.id)
Beberapa waktu yang lalu muncul sebuah video yang diunggah ke media sosial mengenai prosesi sholat tarawih kilat yang dilakukan di sebuah pondok pesantren di Blitar, Jawa Timur. Prosesi sholat tarawih super kilat ini memang cukup menghebohkan. Sholat tarawih sebanyak 20 raka'at dilakukan tidak lebih dari 10 menit!
Salah seorang pengurus pondok pesantren yang terlihat diwawancarai menjelaskan bahwa ritual ini sudah dilakukan bertahun-tahun yang lalu, mengikuti ajaran para sesepuh. Jika dirunut lebih jauh, cerita tarawih kilat ini pada awalnya dimaksudkan untuk membuat para jama'ah tertarik mengikuti sholat tarawih berjamaah. Dengan prosesi yang cepat membuat orang-orang tertarik karena merasa ringan dan mudah. Fenomena ini cukup menarik karena ternyata ritual sholat tarawih kilat ini diikuti oleh ribuan jamaah dari berbagai usia dan bahkan dari berbagai tempat yang cukup jauh dari lokasi pondok pesantren ini.
Saya tertarik satu hal melihat fenomena ini, yaitu masalah cepat, kilat. Ya..orang maunya cepat. Kata-kata ini sudah tidak asing lagi di telinga kita, bukan? Memang sebuah hal yang umum dan manusiawi sekali ketika kita sebagai manusia ini maunya serba cepat, mudah. Maka tidak heran jika banyak sekali kita jumpai di sekitar kita yang gemar mengambil 'jalan pintas' untuk membuat tujuannya 'cepat' tercapai.
Nah, coba kita luruskan sedikit mengenai kata 'cepat' ini. Yang diinginkan setiap orang untuk 'cepat' tentunya adalah cepat untuk mendapatkan hasil, cepat mencapai tujuannya. Coba kalau kita lihat fenomena sholat tarawih kilat ini, apa kira-kira tujuan atau hasil yang mau didapat oleh orang yang melaksanakan sholat tarawih? Apakah bertujuan agar cepat selesai? atau untuk beribadah mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa? 
Jika tujuannya adalah cepat selesai berarti memang pas kalau ikut jama'ah sholat tarawih kilat ini. Bahkan bila perlu dibuatkan sebuah target atau catatan lama waktu untuk pelaksanaan sholat tarawih ini, sehingga bisa dilihat secara grafik pencapaian setiap hari kecepatan tarawihnya mengalami peningkatan atau penurunan. Jika muncul tren penurunan maka bisa dibuatkan sebuah PICA (Problem Identification & Corrective Action) atas pelaksanaannya sehingga bisa ditingkatkan kecepatannya pada hari berikutnya. Jika ternyata tren semakin meningkat alias waktunya lebih kilat khusus, buatlah menjadi sebuah standar baru sehingga bisa menentukan target yang baru. Kira-kira begitu arahnya jika tujuan dari sholat tarawih ini adalah 'cepat selesai'.
Bicara mengenai 'cepat selesai' saya jadi tertarik untuk membahas lebih panjang dan dalam lagi. Kata-kata 'cepat selesai' identik dengan pembicaraan dewasa. Istilah kerennya adalah ejakulasi dini. Nah, jika dikaitkan dengan target dan tujuan, ejakulasi dini ini juga sedikit absurd. Target dan tujuan dari pasangan lawan jenis ketika berhubungan badan adalah untuk bereproduksi, menghasilkan benih sebagai penerus keturunan. Menjadi cukup absurd dan kontradiktif ketika orang-orang berlomba-lomba untuk 'tahan lama' dibandingkan 'cepat selesai'. Padahal jika yang terjadi adalah 'tahan lama', maka tujuan untuk segera menanam benih dan punya anak sebagai penerus keturunan juga akan lebih lama lagi, target tidak tercapai. Memang aneh fenomena yang terjadi ini, semua serba terbalik, salah kaprah.
Kalau kita renungkan lebih dalam lagi, sebenarnya apa sih yang membuat orang buru-buru ingin cepat selesai atau berlama-lama melakukan sesuatu? Satu kata yang paling pas untuk mewakili adalah 'Nikmat'. Ya..kenikmatan lah yang dicari orang dan berharap untuk bisa berlama-lama menikmatinya. Hubungan suami istri merupakan sebuah kenikmatan tersendiri, halal tentunya, maka tidak heran jika pasangan berusaha untuk berlama-lama menikmati setiap prosesinya.
Bagaimana dengan sholat tarawih? kenapa muncul fenomena tarawih kilat? kenapa orang lebih senang cepat selesai? kenapa memilih ikut jamaah dengan bacaan pendek? apakah sholat tarawih bukan sebuah kenikmatan? 
Jawabannya adalah 'Ya' untuk orang yang ikut sholat tarawih kilat tersebut kalau tujuannya adalah 'cepat selesai'. Tapi tentunya adalah sebaliknya bagi orang-orang yang merasa bahwa ibadah di bulan suci Ramadhan ini merupakan sebuah ibadah yang ditunggu-tunggu selama satu tahun sehingga tidak menyia-nyiakan waktu dan berlama-lama menikmati setiap prosesi ibadah termasuk sholat tarawih ini. Bisa kita lihat bagaimana prosesi sholat tarawih yang dilakukan dengan bacaan surat-surat panjang sehingga memakan waktu berjam-jam dan dilakukan oleh jama'ah dengan khusuknya.
Memang tidak ada aturan harus berapa lama sholat tarawih dilakukan, tapi tentunya ada syarat dan rukunnya yang tidak boleh kita tinggalkan meski boleh saja bahkan kita tinggalkan sama sekali, tidak melaksanakan sholat tarawih karena memang hukumnya adalah sunnah. Jadi tidak perlu ada pertentangan dan perdebatan di sini mau seberapa cepat sholat tarawih Anda, seberapa khusuk Anda melakukannya, Allah lah yang menilainya.Tapi lain lagi kalau urusannya ejakulasi dini. Akan muncul perdebatan dan pertentangan dengan pasangan tentunya jika Anda terlalu cepat selesai dan tidak khusuk menjalaninya, Istri Anda lah yang akan menilai. #nyengir
Salam,
HUM

It's All About Bicycle

Waspadai Serbuan Jama'ah Malliyah!

Waspadai Serbuan Jama'ah Malliyah!
Jama'ah Malliyah menyerbu pusat perbelanjaan (source: theglobejournal.com)
Merebaknya aliran-aliran yang cukup beragam di tanah air memang perlu untuk kita waspadai. Menjelang paruh waktu kedua bulan Ramadhan ini kita harus mewaspadai akan munculnya sebuah aliran baru yang saya sebut sebagai Jama'ah Malliyah. Jangan sampai kekhusyukan ibadah kita di bulan suci ini menjadi terganggu dan berkurang pahalanya gara-gara kita ikut menjadi bagian dari jama'ah Malliyah ini.
Jama'ah Malliyah yang saya bicarakan ini bukan seperti kelompok jama'ah-jama'ah sliran agama atau garis keras semacam ISIS dan turunannya, tapi merupakan sekelompok orang atau jama'ah yang beramai-ramai, berbondong-bondong menyerbu Mall-mall dan pusat perbelanjaan menjelang Lebaran. Euforia menyambut lebaran seringkali membuat kita lupa diri, apalagi ditambah gencarnya promosi dan rengekan anak istri yang membuat emosi kita membumbung tinggi. Fenomena ini pasti sudah tidak asing lagi dan akan segera kita jumpai.
Dari data statistik yang saya kumpulkan dari masjid di dekat rumah, jumlah Jama'ah sholat Tarawih semakin hari makin terlihat adanya kemajuan. Pada saat awal-awal Ramadhan, jama'ah penuh sesak memenuhi masjid, bahkan sampai luber ke belakang dan jalanan samping masjid. Seiring waktu berjalan, barisan jama'ah mengalami kemajuan. Yup..kemajuan secara harfiah. Pelan-pelan jumlah shaft bergerak maju, yang awalnya penuh sampai baris belakang sedikit demi sedikit mulai maju ke barisan depan. Yang pada awal-awal puasa kita harus datang lebih awal biar kebagian tempat buat sholat Tarawih, telat sedikit bakal kebagian tempat di halaman masjid, tapi semakin tambah hari semakin mudah untuk kita mendapatkan tempat nyaman untuk sholat Tarawih. Hebat bukan..? Dan masih mengambil dari data statistik juga dari Mall di dekat rumah juga, kemajuan jama'ah sholat Tarawih ini memicu bertambahnya jama'ah Malliyah yang memadati pusat perbelanjaan di malam hari. Merupakan sebuah korelasi positif vs positif, kemajuan jama'ah sholat Tarawih meningkatkan jumlah jama'ah Malliyah. Coba nanti saya buat grafik eksponensial untuk menjelaskan korelasi antara dua parameter ini.
Menjelang paruh waktu kedua bulan Ramadhan ini bertepatan dengan masa gajian yang jatuh di akhir bulan maupun awal bulan nanti. Hal ini mau tidak mau dan harus kita sadari sebagai salah satu faktor pemicu bertambahnya jumlah jama'ah Malliyah. Masih ditambah lagi THR yang akan diterima berikutnya atau malah sudah diterima rapel dengan gajian bulan ini, tentunya menambah kuatnya pasokan amunisi dari jama'ah Malliyah ini. Kondisi ini sebenarnya merupakan hal umum dan wajar kita jumpai setiap tahunnya di negeri ini. Sedikit kontradiktif sebenarnya dengan kondisi ekonomi yang dikabarkan terjadi perlambatan, coba nanti saya belum lihat data statistiknya dari warteg sebelah rumah.
Sesuai dengan hukum ekonomi supply and demand yang baru saja saya buka catatannya dari meja teman sebelah, fenomena ini memicu bergairahnya kondisi pasar. Para pelaku pasar berlomba-lomba untuk memberikan promosi maupun diskon untuk produk-produknya, dengan harga spesial tentunya. Spesial khusus menyambut lebaran, setelah itu akan balik lagi harga normal, tanpa diskon tapi bisa jadi lebih murah harganya karena tidak ada yang beli. Saya akan update lagi nanti dari hasil survey pasar senggol kampung sebelah.
Ketika para penjual di Mall-mall berlomba-lomba memberikan diskon sehingga harga-harga (seolah-olah) menjadi lebih murah, hal ini berbeda dengan yang terjadi di pasar tradisional yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Dari hasil sidak ke pasar tumpah di gang sebelah, tanpa tutup tedeng aling-aling dijumpai para pedagang sembako dengan gagahnya menawarkan harga-harga yang semakin naik, diskon yang ada tergantung dari kejudesan emak-emak dalam menawar. Demi melihat semakin membumbungnya harga sembako apalagi nanti mendekati Lebaran, analisa saya selain memang hal ini terpengaruh oleh faktor supply and demand, ada satu faktor lagi yang kemungkinan besar berperan, yaitu adanya penimbun, oknum yang memanfaatkan kondisi musiman ini. Jika saya coba analisa lebih dalam lagi dan mengaitkan dari kultum pak ustadz waktu kecil dulu bahwa di bulan Ramdhan ini setan-setan akan dibelenggu selama satu bulan penuh, sangat bisa dipastikan bahwa oknum penimbun sembako ini adalah bangsanya setan. Karena mereka mau dibelenggu selama sebulan penuh, maka sebelum bulan Ramadhan kemarin curi start nimbun sembako dulu, inilah akibatnya.
Baiklah, sebagai penutup saya berwasiat kepada diri sendiri dan para jama'ah sekalian. Waspada dan berhati-hatilah terhadap kemunculan jama'ah Malliyah ini. Buat rencana dan persiapan menyambut lebaran tahun ini dengan tenang. Pilah mana yang hanya sebuah keinginan dan mana yang benar-benar merupakan kebutuhan. Buat kalkulasi kebutuhan dan pengeluaran termasuk rencana silaturahmi ke keluarga besar atau ke kampung halaman. Jangan sampai batal rencana silaturahmi gara-gara kita terjerumus masuk ke dalam jama'ah Malliyah ini dan kehabisan ongkos buat pulang kampung. Waspadalah....waspadalah..!!
Salam,
HUM

It's All About Bicycle

Prestasi Jokowi dari Cipali sampai Interstellar

Saturday, June 27, 2015

Prestasi Jokowi dari Cipali sampai Interstellar


Hawa mudik lebaran sudah mulai terasa. Bau angin Pantura seolah terbawa menusuk hidung yang kembang kempis ini. Bayangan bermacet ria di jalanan ada di depan mata. Ehh..tunggu dulu, kan sudah ada Tol Cipali. Bisa melesat cepat nih pulang kampung tahun ini :)
Yup, Tol Cipali (Cikopo-Palimanan) telah diresmikan oleh Presiden Jokowi hari Sabtu, 13 Juni 2015 dan dibuka untuk umum mulai Minggu, 14 Juni 2015 jam 00:00 dan masih dibuka gratis sekaligus untuk evaluasi kondisi jalan. Hasil sementara sudah tercatat beberapa kecelakaan yang terjadi. Mudah-mudahan tidak perlu bertambah lagi sehingga acara mudik tetap lancar.
Kontroversi muncul ketika Tol Cipali ini diresmikan oleh Presiden Jokowi. Dua kubu Jokowi (Hater & Lover) saling bersitegang. Para Haterberanggapan bahwa Jokowi menjadikan Cipali sebagai prestasinya, padahal dibangun pada masa pemerintahan SBY. Jadi sebenarnya Cipali ini bukan hasil kerja Jokowi, hanya menikmati hasil jadi saja dan paraLover menganggap itu sebagai hasil kerja kerja kerja Jokowi.
Sebenarnya kontroversi Tol Cipali ini muncul juga sebelumnya, yaitu masalah penamaan. Sebelumnya Tol ini disebut Cikapali, diambil jadi Cikampek-Palimanan. Penamaan ini menjadi masalah ketika penguasa daerah Purwakarta protes dan menyampaikan bahwa ujung Tol ini bukan di Cikampek yang notabene masih masuk wilayah Karawang, melainkan di Cikopo yang masuk wilayah Purwakarta. Demi meluruskan kenyataan itu akhirnya Tol Cikapali resmi diganti menjadi Tol Cipali saat diresmikan oleh Jokowi, meski papan petunjuk di jalan Tol masih mengadopsi nama Cikapali, mungkin belum sempat diganti.
Mengamati fenomena Tol Cipali ini saya jadi teringat sebuah film fiksi ilmiah yang saya tonton beberapa waktu yang lalu dan tertarik untuk membahasnya. Interstellar, film super keren ini coba saya kaitkan dengan Cipali.
Kontroversi peresmian oleh Jokowi yang dianggap prestasinya maupun masalah pemilihan nama tadi saya pikir hal yang terlalu sepele untuk diperdebatkan, sangat tidak mengena esensinya. Pemikiran tentang masa kini, egosentris dan sangat dangkal. Kenapa saya perlu kaitkan dengan film Interstellar? Baiklah, saya coba refresh sedikit cerita tentang film ini. Bagi yang pernah menonton bisa jadi muncul komentar "film yang membingungkan". Bagi saya film Interstellar garapan Nolan ini merupakan salah satu film super duper keren yang pernah saya tonton, baik dari sisi penyajian maupun esensi ceritanya. Begitu dalam dan penuh filosofi. Buat yang belum pernah nonton film ini boleh coba browsing resensi filmnya. Intinya film ini berkisa tentang perjalanan menembus batas dan waktu untuk memperjuangkan kelangsungan hidup umat manusia dengan resiko mengorbankan diri maupun keluarga. Sebuah perjalanan lintas galaxi untuk menemukan sumber kehidupan baru ketika diprediksi kondisi bumi sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali oleh anak cucu di kelak kemudian hari. Sebuah filosofi cukup tinggi jika kita lihat dan bandingkan dengan apa yang setiap hari kita temui di media. Berita tentang politik, korupsi, sikut sana-sini, memperjuangkan hak-hak pribadi maupun golongan dengan mengabaikan orang lain, apalagi memikirikan masa depan bangsa ini atau bahkan umat manusia di dunia ini. Sungguh ironis.
Sebuah dialog yang mengisyaratkan sebuah pemikiran yang berimbang sempat saya note ketika tokoh utama sedang galau antara tetap tinggal bersama keluarganya atau pergi ke angkasa luar yang belum tentu berhasil dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
"Kau tak bisa memikirkan keluargamu saja, pikirkan hal lebih besar dari itu."
Jawaban sang tokoh sangat mengena, "Aku memikirkan keluargaku dan jutaan keluarga lainnya."
"Kita harus berpikir, bukan sebagai individual, tapi sebagai spesies."
Sebuah jawaban dari pemikiran revolusioner seorang pemimpin. Seimbang antara memikirkan keluarga dan orang lain, karena merasa bagian dari keluarga besar. Jadi tidak berpikir di awal untuk mengorbankan salah satunya.
Sangat bertentangan dengan yang kita jumpai di saat ini. Begitu ambisinya para pejabat dan pemimpin kita untuk memikirkan dirinya dan keluarganya, kroni-kroninya, kerabat dekatnya dengan mengabaikan atau bahkan mengambil hak jutaan keluarga lainnya.
Misi dari perjalanan luar angkasa yang dikisahkan di film Interstellar ini penuh dengan muatan ilmiah di dalamnya. Bagaimana hubungan teori relativitas yang dikaitkan dengan perjalanan menembus waktu dan dimensi ini. Sebagai ilmuwan, para tokoh di sini sadar dengan resiko perbedaan waktu relatif yang akan terjadi. Satu jam mereka di planet lain sama dengan 7 tahun waktu di Bumi. Waktu begitu berharga untuk misi yang mereka jalankan, sebuah misi yang mereka sadar dari awal bahwa kecil kemungkinan berhasil atau bisa dirasakan oleh keluarga mereka saat ini, tapi untuk masa depan.
Satu adegan yang cukup menyentuh adalah ketiga rombongan menyisakan satu orang tetap di pesawat sedang team yang lain mendarat di planet baru dengan perbedaan gravitasi dengan bumi sehingga memunculkan relativitas waktu. Hanya beberapa jam mereka pergi dan ketika kembali ke pesawat menjumpai teman mereka sudah tambah tua beruban. 23 tahun lamanya dia menunggu dengan hampir putus asa team akan kembali ke pesawat. Yang paling menyentuh adalah di akhir cerita ketika sang tokoh akhirnya berhasil kelmbali ke Bumi dan ketemu dengan anak perempuannya yang saat ditinggalkan masih kecil, saat bertemu sudah menjadi seorang nenek tua yang dikelilingi oleh anak cucunya. Nenek tua yang bertemu dengan ayahnya yang masih muda. Nenek tua yang berkeyakinan penuh akan perjuangan ayahnya untuk umat manusia. Nenek tua yang melanjutkan tongkat estafet dari apa yang telah dimulai oleh pendahulunya. "Akan kuselesaikan apa yang kau mulai."
Saya jadi berandai-andai, coba Jokowi menonton film Interstellar ini kalau belum pernah, sempatkan di sela-sela kesibukannya. Atau minimal baca resensi dari film ini. Dan bukan hanya Jokowi, tapi semua pejabat pemerintah, para pemimpin instansi, aparat pemerintah dan pemimpin-pemimpin yang lainnya termasuk kita tentunya sebagai pemimpin keluarga, minimal memimpin diri sendiri buat yang masih jomblo.
Jika kita berpikir revolusioner seperti esensi film Interstellar tadi maka tidak ada perdebatan siapa yang berjasa atas Tol Cipali. Memang tugas Jokowi untuk meresmikan apa yang sudah dimulai oleh SBY bahkan mungkin digagas oleh Soeharto atau malah ide dari pemikiran Soekarno? Sebagai pemimpin bangsa harus siap menerima tongkat estafet dari pemimpin sebelumnya dan jangan lupa berpikir untuk menyerahkan tongkat estafet berikutnya bukan saling berebut tongkat, pukul memukul, jegal menjegal dengan target sesaat. Berpikirlah untuk masa depan, masa yang akan datang bahkan ketika kita tidak lagi bisa menikmatinya.
"Waktu itu relatif, paham!"
"Waktu bisa merenggang, waktu bisa mengkerut, tapi...waktu tak bisa mundur! Tak bisa !"

Salam,
HUM
It's All About Bicycle

Kasus Angeline di Mata Cenayang

Kasus Angeline di Mata Cenayang


Sedih dan miris rasanya membaca kasus Angeline di media, si gadis kecil yang cantik ini. Perkembangan kasus yang semakin membuat pilu, entah apa yang ada di pikiran sang pelaku sehingga begitu tega dan gelap mata. Meski saya seorang laki-laki yang perasaannya tidak sesensitif kaum perempuan, tapi sebagai seorang ayah dari anak perempuan yang usianya sebaya dengan Angeline, hati ini ikut tercabik-cabik rasanya.
Ada satu berita yang cukup menarik mengenai kasus ini, yaitu perihal penerawangan seorang cenayang tentang meninggalnya Angeline. Beritanya bisa dibaca di sini. Saya jadi tertarik dan teringat sebuah film yang pernah saya tonton entah beberapa tahun yang lalu, judulnyaMinority Report yang dibintangi Tom Cruise dan Collin Farrel. Saya tidak ingin membahas mengenai cerita atau resensi film ini, tapi inti cerita di dalamnya yang coba saya kaitkan.
Dalam film Minority Report dikisahkan tentang adanya cenayang yang disebut 'Precog' yang bisa mengetahui bayangan masa depan. Kemampuan ini kemudian dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya sebuah kejahatan. Jadi ketika akan muncul sebuah tindak kejahatan, melalui 'Precog' ini sang 'calon' pelaku bisa diamankan lebih dahulu sebelum benar-benar melakukan tindakan kejahatan. Konsep 'Pre Crime'menjadi sarana yang ampuh untuk menekan angka kejahatan dan tindak kriminalitas yang akan terjadi.
Film fiksi ilmiah ini memang masih sebatas angan-angan dan imajinasi sang sutradara untuk saat ini. Apalagi cerita tentang masa depan merupakan sebuah misteri Illahi, meski kita bisa jumpai ada banyak 'orang pintar' atau peramal yang mengklaim bisa melihat masa depan. Memang merupakan sebuah misteri dan penuh kontroversi jika sebuah ramalan 'ternyata' menjadi kenyataan. Susah sekali untuk dibuktikan secara logika akal manusia. Saya cuma membayangkan jika cerita Cenayang tentang kasus Angeline di atas diungkap sebelum semua terjadi, mungkin si Cantik Angeline masih bisa menikmati masa kecilnya sekarang. Atau malah sebaliknya, sang Cenayang dianggap orang gila!
Pendekatan ilmiah mengenai precogniton atau ramalan masa depan ini bukan tidak mungkin untuk bisa diterapkan di masa yang akan datang. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknik predictive analytic bisa diimplementasikan. Pengguna ponsel pintar saat ini tentu tidak asing dengan predictive text yang akan muncul ketika kita mengetikkan sebuah huruf atau kata pada clipboard. Sebuah algoritma tertentu menjadi sarana sang ponsel pintar untuk memberikan prediksi terhadap kata atau kalimat yang mau kita tuliskan. Meski kadang sedikit mengganggu karena tidak sesuai dengan keinginan kita atau bahkan memunculkan ramalan kata yang jauh menyimpang dari yang diharapkan, tapi konsep predictive text ini merupakan pembuktian awal bahwa kemampuan 'Precog' sang Cenayang bisa kita ciptakan melalui teknologi.
Kalau Anda penggemar film dan juga pencinta sepeda, tentunya pernah menonton film Premium Rush. Coba amati kemampuan sang tokoh utama dalam 'menerawang' masa depan ketika akan melakukan sebuah tindakan. Dia coba membayangkan cepat beberapa kondisi 'masa depan' yang akan terjadi jika dia memilih tindakan A, B, C atau D. Akibat dari tindakan yang akan dia lakukan dianalisa melalui sebuah predictive impact sehingga bisa menghindari atau meminimalisir efek terburuk yang diakibatkan.
Teknologi GPS yang terintegrasi dengan ponsel pintar juga bisa kita kategorikan sebagai konsep 'Precog'. Update lalu-lintas pada jalan di depan yang akan kita lewati akan dengan mudah kita dapatkan. Titik-titik kemacetan tergambar di depan, sehingga pengguna bisa melihat 'masa depannya' dan mencari alternatif untuk menghindari agar tidak terjadi, terjebak dalam kemacetan di 'masa depan'. Teknologi modern yang disematkan di mobil mewah bahkan sudah ada yang menerapkan sebuah 'Precog' untuk menganalisa kemungkinan terjadi tabrakan dengan benda lain pada jarak tertentu. Sistem akan memberikan peringatan kepada sang sopir tentang prediksi yang akan terjadi di 'masa depan'. Bahkan sistem 'Precog' ini terintegrasi dengan sistem mekanis mobil sehingga otomatis akan mengurangi kecepatan mobil dan melakukan pengereman untuk menghindari terjadinya benturan.

Jika dikaitkan dengan cerita cenayang kasus Angeline, mungkin bukan sebuah teknologi yang digunakan dan memang belum tentu terbukti kebenarannya. Tapi coba kita berandai-andai jika suatu saat teknologi sudah mendukung dan bisa terintegrasi dengan otak kita, sehingga sistem 'Precog' bisa mengingatkan atau bahkan otomatis mencegah ketika kita mau melakukan sebuah perbuatan negatif, mungkinkah? Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, tentunya atas kehendak-Nya.
Yang bisa kita coba lakukan adalah kenali lingkungan, waspada dan saling mengingatkan. Kenali lingkungan sekitar kita terhadap potensi bahaya yang ada. Selalu waspada akan kemungkinan yang terjadi dan saling mengingatkan ketika muncul ancaman yang tidak disadari orang lain sedangkan kita bisa memprediksi potensi bahayanya. Semoga Angeline cantik tenang dan damai di sana. Jangan ada lagi kasus yang menimpa Angeline-Angeline yang lain, anak-anak masa depan kita! Aamiin...

Salam,
HUM
It's All About Bicycle



Selfie, Ajang Kompetisi dengan Diri Sendiri

Monday, June 8, 2015

Selfie, Ajang Kompetisi dengan Diri Sendiri


"Cowok paling enggak tuh ya, tiap hari selpi, tiap kali ganti pp. Kek ga ada kegiatan lain aja."
Saya comot sebaris kalimat ungkapan seorang teman di jejaring sosial yang mengungkapkan komentarnya tentang aktivitas memotret diri sendiri alias selfie. Teman saya ini seorang perempuan tentunya dilihat dari komentarnya.
"Coba aja kang, selpi monyong2 gitu, tak anpren segera, hahahaha..."lanjutan komentarnya menanggapi komentar dari seorang temannya.
Fenomena selfie memang sedang marak bermunculan di sosial media seiring tak terbendungnya teknologi informasi yang berkembang di dunia maupun di tanah air. Merujuk dari arti kata jika ditelusuri lebih dalam pengertian ‘Selfie’ menurut referensi pustakawan Britania adalah“sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke situs web media sosial.” Jadi memang kemunculan fenomena ini sangat didukung oleh berkembangnya ponsel pintar yang semakin terjangkau secara harga. Pada awal munculnya ponsel pintar yang dilengkapi dengan fitur kamera, harga yang ditawarkan masih relatif tinggi dan juga teknologi kamera yang diusung juga belum mumpuni. Saat ini banyak sekali ponsel pintar yang bertebaran dengan berbagai fitur kamera yang semakin memanjakan diri pengguna untuk ber-selfie ria, salah satunya ponsel keluaran terbaru Smartfren Andromax C3S & C3Si. Ponsel berbasis Android dengan harga yang sangat bersahabat untuk anak muda ini memiliki fitur Front Led Flash Camera yang akan semakin membuat wajah penggemar selfie semakin cerah berbinar. Pengguna akan dengan mudah mengunggah foto selfie-nya di jejaring sosial dengan dukungan jaringan kecepatan tinggi dari Smartfren. Tentunya akan membuat diri semakin eksis di dunia maya dan membuat 'wow' teman yang lainnya.
Meski fenomena selfie ini mencuat seiring munculnya teknologi ponsel pintar, pada dasarnya 'hasrat' untuk selfie ini ada pada diri setiap individu meski dengan kadar yang berbeda-beda. Sisi egosentris kita tidak bisa dipungkiri. Coba wajah siapa yang kita cari saat melihat foto kita bersama sekelompok orang? Pertama kali tentunya kita akan fokus mencari wajah kita yang mana, baru urutan berikutnya kita lihat orang-orang dekat atau yang kita kenal. Hal ini menunjukkan bahwa sisi keakuan atau narsis tak bisa lepas pada diri seseorang. Tidak peduli mau wajah kita yang terjelek dari sekumpulan teman kita, tetap wajah sendiri yang kita cari di urutan pertama. Merujuk pada kalimat yang saya ambil dari status akun jejaring sosial salah satu temen putri di atas, sebenarnya foto-foto diri yang kita anggap paling 'wah' dan 'wow' tadi ternyata terasa 'bikin mual' orang lain yang melihatnya, tentunya jika berlebihan.
Beragam motivasi dan tujuan orang melakukan selfie. Saya coba analisa pribadi dengan berbekal beberapa foto selfie pribadi. Beberapa waktu yang lalu media sempat dihebohkan oleh peristiwa kecelakaan seorang pendaki gunung Merapi yang meninggal setelah melakukan foto selfie di sana kemudian terpeleset dan terjatuh ke kawah. Dari beberapa foto yang sempat diunggah ke media sosial, bisa jadi itu bukan masuk kategori selfie karena foto diambil oleh orang lain. Saya tidak ingin membahas mengenai kasus itu, tapi coba mengaitkan dengan motivasi penyuka selfie. Coba lihat foto selfie asli saya di bawah ini.
Foto di atas saya ambil sendiri menggunakan ponsel pintar di atas kawah Gunung Tangkuban Perahu. Apa yang menjadi motivasi? Gaya..? Lokasi ekstrim..? Pose menantang..? bisa jadi semuanya merupakan jawabannya. Merasa diri seolah menjadi sosok Neo dalam trilogi The Matrix. Berbagai komentar dari teman ketika foto selfie itu saya unggah beberapa saat setelahnya ke media jejaring sosial. Komentar haha hihi mewarnai status foto selfie saya tadi.
Bagaimana dengan potensi bahaya saat saya melakukan sesi foto itu? Sudut pengambilan gambar saja yang membuat foto itu seolah saya melayang mau jatuh ke belakang dengan kawah di bawahnya. Sebenarnya dengan satu tangan pegang ponsel pintar dengan fitur timer dan tangan satunya berpegangan pada pagar beton di pinggir tebing atas kawah tersebut. Jadi untuk mendapatkan momen istimewa dengan lokasi ekstrim kita tetap selalu memperhatikan potensi bahaya,safety first.
Kita coba lihat lagi foto selfie yang kedua di bawah ini.
14330837661152435091
Goweser selfie (Doc: HUM)
Foto ini saya ambil di sela waktu istirahat bersepeda. Yap...bersepeda merupakan salah satu hobby saya. Tujuan selfie dengan kostum sepeda dia atas apa kira-kira? Gaya..? Tentu saja..! #nyengir
Selain itu sebagai pengumuman ke teman-teman di jejaring sosial mengenai hobby dan kegemaran saya, siapa tahu ada yang punya hobbysama atau tertarik untuk ikut bersepeda. Jadi alah satu fungsi foto selfie ini adalah untuk memberi tahu sisi lain dari kehidupan kita yang mungkin orang yang tiap hari berinteraksi di tempat kerja bahkan tidak tahu.
Foto berikutnya saya ambil dengan ponsel pintar yang punya fitur face recognition. Fitur ini bisa mendeteksi usia kita dengan algoritma tertentu saat kamera diarahkan ke wajah kita. Semakin narsis dan kepala tambah bengkak saja ketika sang ponsel pintar mengenali usia kita jauh di bawah usia sebenarnya. Sok imut, sok muda, sok keren..itu yang akan muncul di benak kita. Dan sebaliknya, berasa mual dirasakan oleh teman yang melihat foto yang diunggah. #nyengir
1433083901915311044
Face recognition (Doc: HUM)
Sisi lain yang coba dimunculkan saat selfie adalah orang-orang dekat di sekitar kita. Foto selfie ini yang biasanya dilakukan bersama keluarga, istri, anak atau teman dekat. Foto selfie bersama ini menunjukkan eksistensi kita di sekitar orang-orang dekat. Kedekatan hubungan serta keakraban coba dimunculkan melalui sesi foto selfie ini. Bagaimana komentar Anda tentang foto selfie bareng si Kecil yang lucu di bawah ini..? Menggemaskan bukan melihat ekspresi si Kecil..? dan tentu sebaliknya bikin perut mules melihat foto bapaknya. :D
14330840702131581979
Fish eye - Menggemaskan (Doc: HUM)
Ohh, iya..foto selfie ini menggunakan fitur fish eye pada ponsel pintar sehingga terlihat objek melengkung seperti objek yang dilihat oleh mata seekor ikan. Fitur ini sekedar sebagai variasi foto sehingga terlihat lain dan lebih menarik tidak monoton seperti foto pada umumnya.
Yang terakhir saya coba pasang foto yang satu ini. Langsung sakit perut pastinya ketika melihat foto selfie saya ini, lha wong proses pengambilannya saja di detik-detik saat perut mules. #jorok
14330843641773739894
Jangan bugil di depan kamera (Doc: HUM)
Foto ini sebenarnya mengingatkan pada kasus foto kamar mandi para remaja putri ABG  atau Alay yang bikin heboh media sosial. Foto selfie diri yang polos. Polos bukan karena wajah lugu tanpa dosa. Memang sih tampang ABG masih pada lugu, tapi polos tanpa sehelai benang dan ber-selfie ria di depan kamera tentunya hal bodoh yang mereka lakukan. Apalagi menyimpannya di ponsel kemudian diunggah sang pacar ke media sosial atau malah mengunggahnya sendiri..? So big mistake..! Jangan bugil di depan kamera..!!
Makanya saya foto selfie kamar mandi masih berpakaian, biar tidak menggoda iman.. #nyengir
Salam,
HUM
It's All About Bicycle

Mintalah Bon Pembelian di SPBU

Mintalah Bon Pembelian di SPBU





Gonjang-ganjing harga BBM yang naik turun menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Ketika harga BBM naik, harga sembako tidak mau kalah melesat mengejar. Giliran BBM turun sedikit, sembako tetap konsisten. Sembako mah gitu orangnya.. konsisten....#loh
Saya lagi nggak pengen mbahas masalah harga BBM atau sembako atau tarif si AA yang suka naik turun #ehh. Maksudnya gini, saya heran dengan orang-orang berduit tu...naiknya mobil ber merek... Alparat.. Mbelgesdes yo ben...biemdabelyu...tapi kok ngantrinya beli premium. Ngeluh harga petromax mahal. Apa ndak bisa berhitung apa ya..? 1 liter sekarang harganya cuma 8.700, kalau belum naik. Coba bandingin musti keluar duit 50 jt cuman dapet brp mili liter tu sama si AA #nyengir
Cukup..! Sekarang yang serius ya.. Baiklah. Jadi begini, kemarin bini cerita habis ngisi bensin penuh buat mobilnya habis 450 ribu. Saya tanyain, " Yakin bayar segitu?" Dengan mantab bini njawab, " Yakin lah..lha wong duit di dompet ya cuman segitunya..ni habis tinggal marebuan.." sautnya sambil nyodorin dompet yang  sobek sana sini penuh sesak kartu kagak jelas. Hmm..yang saya pikirkan nggak se-simple istri saya. Dalam hitungan cepat di kepala coba kalkulasi. Coba kita hitung, 450.000/7.400 = 60,8108108 liter (hebat juga itungan cepat kepala di luar ini ya..? Sampek dapet berapa digit belakang koma gitu.. :D). Sedang kapasitas tangki si Vina mobilnya istri, menurut spesifikasi di buku panduan pemilik kendaraan cuma 52,4 liter, luber-luber tu bensin mestinya. Ada apa ini..? Apa yang sebenarnya telat terjadi?
Berbagai asumsi bermunculan di kepala. Dicurangi tukang pom bensin? Bisa iya bisa tidak. Kalau Mas Anang sih Yes...Tapi tak begini.. Kau khianati hati ini.. Kau curangi aku..#gubrak Sayangnya istri tidak menyimpan bon pembelian bensin itu, meski yakin dengan jumlah nominal yang dibayarkan (nggak yakin juga sih saya mah sama ingatan istri). Analisa lain mungkin keliru ngisi pertamax? Coba hitung cepat lagi, 450.000/8.700 = 51,7241379 liter. Nah, ini angka mendekati kapasitas maksimal tangki, meski kalau bener mesti ngisi segitu, artinya isi bensin sebelumnya di dalam tangki hanya tersisa 0,6758621 liter..!! Nggak masuk akal sih kalau saya yang bawa mobil, nyisain isi tangki sampai hampir ludes gitu :D
Oke..lupakan angka-angka perhitungan dengan sekian koma di belakang tadi, bikin pusing pala berbi saja. Yang saya coba pikirkan adalah bagaimana seandainya istri saya minta bon ke tukang pom bensin dan berhenti sejenak untuk memeriksa angka-angka kalkulasi di atas. Common sense dan logika kasar cukup untuk melihat kejanggalan yang mungkin terjadi. Jadi kan kita tidak perlu berasumsi seperti analisa di atas.
Memang kelihatannya sebuah hal yang sepele, hanya secarik kertas kecil bon pembelian bensin yang orang seringkali abaikan, tapi ini menurut saya menjadi penting. Efek positifnya tentu dengan minta bon kita tidak jadi tercurangi oleh ulah SPBU maupun oknum nakal di pom bensin itu. Lebih jauh lagi, kita bisa mencegah atau menutup potensi kecurangan yang bisa dilakukan oleh SPBU ataupun oknumnya. Nilai manipulasi mungkin bagi sebagian orang dianggap kecil. Tapi yang menjadi point adalah bahwa ini masalah mental karena ada peluang dan kesempatan.
Hal lain yang pernah saya jumpai dan mungkin sudah menjadi praktek umum adalah jual beli bon pembelian bensin. Mungkin ada yang berpikir aneh, bagaimana caranya..? Beberapa kali saya jumpai sopir pribadi atau perusahaan ketika selesai isi bensin yang menanyakan ada bon pembelian lain nggak? Tentunya yang nilainya lebih besar dibanding yang dia isikan ke mobil perusahaan atau bosnya. Korupsi dan kolusi antara sopir dan oknum SPBU ini tentu tidak terjadi jika setiap pelanggan selalu minta bon pembelian setiap habis isi BBM.
Melihat kenyataan dan kondisi di lapangan seperti itu, saya pribadi selalu mengingatkan mulut ini untuk minta bon pembelian ke petugas SPBU setiap kali isi BBM, selain juga sebagai catatan boros tidaknya pemakaian BBM selama periode itu. Cukup simple dengan mengkalkulasi berapa kilometer jarak tempuh dibanding berapa liter isi BBM full tank. Jadi hampir selalu saya isi BBM full tank, jika dompet ada isinya tentunya. #mringis. Boleh juga kemudian kita kumpulin bon pembelian tadi, siapa tahu nanti ada program beli 10 kali gratis 1 kali full tank. #ngarep
Sedikit berandai-andai kemungkinan penggunaan teknologi untuk meminimalisir atau bahkan meniadakan potensi penyalahgunaan oleh oknum SPBU ini. Dengan teknologi saat ini bisa saja pembelian BBM ini terintegrasi dengan akun bank kita. Jadi dengan menggunakan kartu kredit maupun debit untuk pembelian. Bon atau struk pembelian juga tidak perlu dicetak, bisa langsung dengan notifikasi SMS atau email yang bisa kita lihat informasinya saat itu juga. Jadi selain menghindari tindakan manipulasi tadi juga selaligus menerapkan konsep go green, paperless.
Jadi mulai sekarang, yuk kita selalu minta bon pembelian setiap kali isi BBM. Hal kecil sepele tapi bisa menumbuhkan dan menjaga sikap mental jujur dari kita, masyarakat, rakyat Indonesia. Revolusi mental kata mas Joko..#nyengir
Salam, 
HUM
It's All About Bicycle

Cara Rumah Sakit Siloam Tangani Pasien BPJS

Sunday, May 24, 2015

Betapa senangnya ketika diberi kabar kalau ponakan pada mau datang saat liburanlong week end kemarin. Yang lebih spesial adalah Ibunda tercinta mau ikut juga. Mengingat kondisi usia Ibu yang sudah cukup berumur, saya mengkonfirmasi dulu kondisi kesehatan beliau ke Kakak di kampung halaman. Dapat jawaban bahwa kondisi Ibu cukup fit dan terlihat antusias jadi cukup lega dan gembira mendengarnya. Akhirnya hari Rabu sore rombongan 2 mobil meluncur dari Magelang menuju Cikarang. Tidak lupa persediaan obat-obatan disiapkan untuk Ibu.
1432465706917177913
Ceria bersama (Doc: HUM)
Kamis menjelang pagi rombongan keluarga sampai. Senang rasanya hati ini berjumpa dengan keluarga terutama melihat Ibu yang terlihat segar meskipun rambut putih  tidak bisa menyembunyikan usianya. Setelah cukup istirahat, kita jalan ke tempat pemancingan sekalian makan siang dan sekaligus bermain buat anak-anak. Sore menjelang tanpa terasa karena asyik menikmati suasana dan bergembira bermain bersama anak-anak. Kita pulang masih penuh keceriaan sambil diskusi agenda besok mau main lagi kemana.
1432465913350984803
Yuhuu… (Doc: HUM)
Suasana gembira seketika sirna ketika sampai di rumah selepas sholat maghrib, Ibu yang keluar dari kamar mandi terlihat berjalan sempoyongan. Akhirnya dipapah masuk ke kamar dan ‘tertidur’ pulas sampai ngorok. Yup..’tertidur’ yang tidak biasa. Cukup panik tapi tetap berusaha tenang akhirnya kita putuskan dibawa ke RS. Pilihan saya jatuh ke RS. Siloam. Meskipun ada RS yang lebih dekat tapi pengalaman yang cukup baik sebelumnya membuat saya memutuskan arah setir mobil kesana.

Di perjalanan sempat terlontar ucapan Kakak bahwa kartu Askes dan KTP Ibu tertinggal di Magelang. Ya sudah, nanti diurus belakangan yang penting pertolongan pertama segera dilakukan.

Cukup sigap Dokter dan Perawat menyambut kedatangan kami. Tindakan pertolongan langsung dilakukan. Paralel dengan tindakan yang dilakukan, kami urus administrasi. Kami sampaikan bahwa Ibu ada Askes tapi tertinggal di Magelang. Jawaban dari mBak admin mengatakan, “wah, tidak bisa kalau tidak ada kartunya”.
Akhirnya karena kondisi darurat kami putuskan daftar sebagai pasien umum.

Setelah mendapatkan pertolongan dari Dokter, alhamdulillah tidak berapa lama Ibu akhirnya sadar. Dokter menyampaikan kondisi Ibu dari hasil lab bahwa mengalami drop gula darah dan Hb yang rendah sehingga mengakibatkan hilang kesadaran. Sang Dokter muda itu kemudian konsultasi dengan Dokter Spesialis penyakit dalam yang akhirnya diputuskan malam itu Ibu perlu dirawat dengan intensif di Health Care Unit (HCU). Bagian administrasi kemudian menjelaskan lagi estimasi biaya perawatan per hari yang cukup besar dan perlu membayar deposit saat itu juga.

Mengingat belum tahu perkembangan kondisi Ibu akan berapa lama dirawat di HCU, saya kemudian kontak orang rumah untuk mengirimkan kartu Askes dan KTP yang tertinggal di rumah. Kakak di rumah mengirimkan scan dokumen via email dan berencana mengirimkan fisik lewat titipan kilat.

Pagi harinya saya coba ke Front Office (FO) untuk diskusi mengenai penggunaan kartu Askes, karena saya dan keluarga kecil ada asuransi kesehatan dari kantor sehingga belum pernah pengalaman dengan BPJS. Sedikit terkejut ketika saya melihat sebuah X-Banner yang berisi tentang penjelasan penggunaan kartu BPJS. Di situ ditulis bahwa pengurusan bisa dilakukan dalam waktu 3×24 jam setelah pasien di rawat. Loh..kok tadi malam admin IGD langsung bilang tidak bisa..?! Penjelasan bagian FO membuat semakin blunder ketika mengatakan bahwa pasien yang terdaftar sebagai pasien umum tidak bisa dirubah ke BPJS dengan tambahan pernyataan, “kan Bapak sudah menandatangani persetujuan administrasi sebagai pasien umum.”
Saya coba jelaskan bahwa jika bagian admin IGD semalam menjelaskan bahwa bisa diurus 3×24 jam tentu lain ceritanya. Lagi pula di IGD tidak ada X-Bannerseperti yang terpasang di FO sehingga kita ikuti keterangan sang admin IGD, apalagi dalam kondisi darurat yang butuh keputusan segera. Seolah-olah ‘menjebak’ pasien kalau ceritanya seperti itu.
14324662041221309484
X-Banner BPJS (Doc: HUM)
Terus bagaimana solusi untuk bisa memanfaatkan kartu BPJS?
FO menyampaikan bahwa pihak RS tidak bisa serta merta menerima pasien BPJS, harus dilakukan cek oleh dokter dulu apakah memenuhi kriteria untuk dirawat. Dengan agak sedikit emosional saya bilang, “kalau kenyataan saat ini Ibu saya dirawat di ICU, apakah perlu dipertanyakan lagi ke dokter memenuhi kriteria perlu dirawat atau tidak?”
Sang FO sedikit kebingungan menjawab dan masih tetap berkata bahwa tidak bisa dirubah ke BPJS karena sudah terlanjur terdaftar sebagai pasien umum.

Karena diskusi tidak menemukan titik temu, saya tanyakan jadi bagaimana caranya agar bisa menjadi pasien BPJS? Penjelasan FO berikutnya membuat kening mengkerut, pasien harus check out pulang dulu dan nanti sore datang lagi untuk daftar dan harus ada rujukan faskes yang di kampung. Dalam hati bilang, “ini FO bikin dongkol juga, orang dirawat di ICU suruh pulang kampung nyari rujukan trus balik lagi” *geleng-geleng. Solusi lain adalah pindah ke RS lain untuk daftar sebagai pasien BPJS. Solusi terakhir ini seperti memberi kesan kalau RS. Siloam mau lepas tanggung jawab.

Akhirnya saya dan Kakak coba naik banding dengan sedikit kritik, RS sebesar ini dan track record selama ini yang cukup bagus kenapa membingungkan dalam memperikan pelayanan ke pasien. Kita paksa ketemu dengan atasannya yang lebih berwenang dalam mengambil keputusan dengan menjelaskan argumen-argumen tadi. Akhirnya sang FO berjanji akan diskusi di internal mereka dan memberi kabar secepatnya.

Sore hari hand phone berdering dan suara di seberang sana memberi tahu bahwa saya bisa ke bagian FO untuk diskusi BPJS. Singkat cerita pihak RS memberikan solusi bahwa pasien bisa menggunakan BPJS dengan cara menyelesaikan administrasi sebagai pasien umum dan daftar lagi dengan BPJS. Tapi waktu cut offharus beda hari, jadi dilakukan penyelesaian administrasi pasien umum di jam 11 malam, kemudian daftar dengan BPJS setelah jam 12 malam, sehingga pasien tidak perlu keluar dari RS. Menimbang-nimbang bahwa ini solusi yang terbaik, akhirnya malam-malam urusan administrasi kami selesaikan.

Alhamdulillah dengan perawatan yang profesional dan bagus dari Dokter dan Perawat di RS. Siloam, Ibunda saat ini sudah pulang dari RS. Kisah ini bukan bertujuan mencemarkan nama baik RS. Siloam malah justru sebaliknya saya sangat mengapresiasi kebijakan dan keputusan serta tindakan yang dilakukan pihak RS. Terima kasih Siloam.
1432466294898076751
Ibunda dikelilingi anak cucu (Doc: HUM)
Kisah ini untuk menjadi catatan saya dan pengalaman buat pembaca. Beberapa point yang bisa kita ambil sebagai catatan. Yang pertama catatan buat perbaikan sistem informasi RS ke pasien. Kasus kami terjadi karena ada salah komunikasi saat awal masuk IGD. Jika informasi cukup jelas tentu tidak terjadi salah paham dengan pasien maupun keluarga pasien. Butuh penjelasan yang mudah dipahami terlebih kondisi panik yang dialami pasien maupun keluarga sehingga seringkali bingung dalam mengambil keputusan cepat.

Yang kedua adalah catatan buat pasien maupun keluarga. Kita harus paham prosedur administrasi BPJS sehingga bisa mempersiapkan segala sesuatu. Kriteria pasien BPJS memang harus dilakukan cek dan validasi oleh Dokter dan ini dilakukan bertingkat sehingga mekanisme surat rujukan adalah untuk tujuan penanganan yang lebih tepat dan akurat.

Yang tidak kalah penting adalah sikap pro aktif kita terutama sebagai keluarga pasien untuk diskusi dengan pihak yang kompeten di RS ketika ada sesuatu yang menjadi kendala. Argumen yang kuat dan diskusi yang mengarah ke solusi merupakan cara untuk bisa menyelesaikan masalah bersama.

Jadi, jika kita paham prosedur yang ada dan mempersiapkan dengan baik maka yakinlah bahwa akan diberikan kemudahan dalam setiap prosesnya. Selalu siap dan berpikir tenang meski dalam kondisi darurat akan memudahkan segala urusan kita. Semoga kita semua diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan-Nya. Meski ada BPJS…kesehatan tetap tidak ternilai harganya :)


It's All About Bicycle
 
Back to Top